Monday, October 6, 2008

BAB VI FUNGSI PEMASARAN

BAB 6
FUNGSI PEMASARAN

6.1. PENGERTIAN DAN FUNGSI PEMASARAN
Apabila seseorang ditanya tentang apa yang dimaksud pemasaran atau apa yang dimaksud memasarkan barang maka orang pada umumnya memberikan jawaban termasuk jawaban yang diberikan oleh para mahasiswa bahwa memasarkan barang adalah menjual barang atau memasang advertensi terhadap barang tersebut agar laku terjual. Jawaban ini hanya benar untuk sebagian kecil saja, sebab penjualan dan advertensi itu hanyalah merupakan sebagian kecil dari kegiatan pemasaran. Pemasaran memiliki cakupan kegiatan yang lebih luas dari itu.
Pemasaran meliputi perumusan jenis produk yang diinginkan oleh konsumen, perhitungan berapa banyak kebutuhan akan produk itu, bagaimana cara menyalurkan produk tersebut kepada konsumen, seberapa tinggi harga yang seharusnya ditetapkan terhadap produk tersebut yang cocok dengan kondisi konsumennya, bagaimana cara promosi untuk mengkomunikasikan produk tersebut kepada konsumen, serta bagaimana mengatasi kondisi persaingan yang dihadapi oleh perusahaan dan sebagainya. Oleh karena itu perusahaan harus mampu untuk menjalin hubungan yang akrab antara perusahaannya dengan masyarakat yang menjadi konsumen bagi produk-produk yang dihasilkan dan dipasarkannya. Hubungan yang baik antara perusahaan dengan konsumennya akan mendatangkan keuntungan bagi kedua belah pihak. Masyarakat yang menggunakan barang hasil produksi perusahaan itu akan memperoleh keuntungan dalam bentuk mendapatkan barang sebagai pemenuhan kebutuhannya dengan kualitas yang baik, sedangkan perusahaan memperoleh keuntungan dalam bentuk diperolehnya penghasilan untuk membiayai kegiatan-kegiatan perusahaan tersebut. Kegiatan yang berupa menjalin hubungan baik antara perusahaan dengan masyarakat konsumen ilu merupakan "Proses Pemasaran". Jadi proses pemasaran merupakan kegiatan yang berupa penentuan jenis produk yang dihasilkan, jumlah yang harus dipasarkan, harga yang ditetapkannya, cara penyalurannya, bentuk promosinya dan sebagainya. Dalam proses pemasaran itu terjadi proses timbal balik di mana perusahaan menyajikan barang-barang dan jasa kepada masyarakat atau konsumen, sedangkan konsumen menyerahkan uang sebagai imbalan atas terpenuhinya kebutuhan mereka secara cepat dan memuaskan.
Perusahaan yang tidak mampu menjalin hubungan timbal balik yang menyenangkan akan membuat konsumen menjadi tidak puas dan apabila hal ini terjadi maka hubungan akan segera terputus dan perusahaan tidak akan dapat memperoleh penghasilan yang sangat diperlukannya bagi kelangsungan hidupnya. Perusahaan semacam ini tentu saja akan cepat jatuh karena akan kekurangan dana yang dibutuhkan bagi kelangsungan hidupnya. Perusahaan macam ini tak ubahnya seperti seorang manusia yang kehabisan darah yang diperlukan oleh tubuhnya. Oleh karena itu maka bagian pemasaran berfungsi untuk menciptakan hubungan timbal balik yang akrab antara perusahaan dengan konsumennya. Hubungan timbal balik ini akan dapat dijalin dengan baik oleh pengusaha apabila pengusaha tersebut pandai dalam mempengaruhi konsumen untuk menyenangi dan selalu menyenangi produk yang dipasarkannya kepada masyarakat atau konsumennya itu. Perlu diketahui pula bahwa masyarakat atau konsumen yang akan dilayani dan dipengaruhi itu adalah sangat beraneka ragam, ada yang kaya dan banyak uangnya ada pula yang tidak terlalu kaya. Ada pula yang tergolong pada kalangan status sosial tinggi dan ada pula yang status sosialnya rendah. Bahkan ada yang cara hidupnya ultra modern tetapi banyak pula yang gaya hidupnya tradisional dan masih banyak Iagi ragam yang ada dalam masyarakat. Oleh karena itu maka pengusaha haruslah pandai-pandai memilih sasaran, pasar beserta cara yang harus dilakukannya dalam rangka upaya untuk mempengaruhi konsumen yang beraneka ragam tersebut. Bagi kalangan masyarakat konsumen tertentu tentu saja diperlukan pendekatan yang berbeda dengan golongan yang lain agar mereka dapat tertarik dan kemudian menyenangi produknya. Oleh karena itu agar berhasil, maka proses pemasaran untuk suatu sasaran pasar tertentu haruslah berbeda dengan cara pemasaran bagi sasaran pasar yang lain.
Sebagai gambaran atas keadaan tersebut dapat diikuti sebuah contoh pengusaha/produsen "raket". Sernua raket fungsinya sama yaitu pemukul bola/shutlecock. Akan tetapi kalau kita teliti lebih cermat maka daIam masyarakat akan terdapat berbagai jenis keinginan dan kebutuhan terhadap raket tersebut. Ada yang menginginkan raket dengan kualitas yang tinggi, sedang, rendah atau sangat rendah. Ada yang menginginkan raket yang agak berat, ada pula yang menginginkan agak ringan. Ada yang menyenangi raket yang berwarna hitam, ada yang menyenangi warna hijau, biru atau merah tua dan sebagainya. Masing-masing jenis kebutuhan akan raket tersebut memerlukan penentuan disain produk, penetapan harga, perkiraan jumlah kebutuhan, cara penyaluran, cara promosi dan cara menghadapi persaingan yang berbeda pula.
Adapun cara yang dapat dilakukan oleh pengusaha untuk mempengaruhi konsumen atau masyarakat agar tertarik dan menyenangi produknya dapat ditempuh dengan memberikan stimulan atau rangsangan tertentu baik stimulan yang bersifat internal maupun rangsangan yang bersifat eksternal. Stimulan internal adalah berupa kebutuhan konsumen itu sendiri, sedangkan eksternal adalah berupa kegiatan pemasaran yang dilakukan oleh perusahaan lewat produknya, harga jualnya, promosinya serta cara penyalurannya. Stimulan internal sering juga disebut sebagai "INNER DRIVEN" atau rangsangan yang berasal dari dalam diri konsumen itu sendiri sedangkan eksternal sering disebut "OUTER DRIVEN" atau rangsangan dari luar diri konsumen. Dengan adanya rangsangan atau stimulus tersebut maka konsumen akan terpengaruh dan apabila berhasil maka konsumen tersebut akan tertarik dan kemudian membeli produk perusahaan itu dan selanjutnya diharapkan akan selalu terjadi pembelian yang berulang-ulang karena konsumen menjadi puas akan produk yang dibelinya itu. Dari uraian tersebut maka ditinjau dari sudut pandangan para pengusaha maka proses pemasaran merupakan proses tentang bagaimana pengusaha dapat mempengaruhi konsumen agar konsumen tersebut menjadi tertarik (tahu), senang, kemudian membeli dan akhirnya puas terhadap produk yang dipasarkan.
ter£arik-7ta1iu~-sernlng:~kemud ian---r:ne~~el i_~~~~y~-l:~~_s
terhad~~~~~~~~ ~ang :dlpasar1COm1ya. p):~- ---
,/' , ....
(i' C~ ~
Ii
\\ 'l
\- $ '),'~', . ~./
\\ ',"1"":' " ..... , •.
\\ t.., .••..• ~ t\ \ .. _\ f,r~:~):~ .. /
Langkah awal yang biasanya dilakukan 0Ie~6~~('1~~isaran dalpm rangka upaya untuk menjalankan fungsinya yaitu proses pemasaran adalah melakukan "Analisa Pasar" atau "Analisa Potensi Pasar". Dalam hat ini kita berusaha untuk dapat memperhitungkan berapa besar potensi pasar yang dapat dilayani 'oleh perusahaan. Besarnya potensi pasar ini tentu saja akan berkaitan erat dengan bal'lyak sedikitnya kebutuhan masyarakat akan produk yang dihasilkan perusahaan itu. Banyak sedikitnya kebutuhan akan sangat diteQtukan oleh banyaknya orang' atau anggota masyarakat yang memiliki kebutuhan tersebut. Banyaknya orang yang memiliki kebutuhan akan prod uk tersebut itulah yang merupakan basis perhitungan potensi pasar bagi perusahaan itu. Perlu dipahami di sini ten tang adanya pengertian atau definisi pasar yang sering menyesatkan para me.; lasiswa


\158 I Penganlar Bisnls
olehperusahaan lewatproduknya, harga jualnya, promosinya serta cara penyalurannya. Stimulan intema!sering juga disebut sebagai "INNER DRIVEN" atau rangsangan yang berasal dari dalam diri konsumen itu sendiri sooangkan ekstemal sering disebut "OUTER DRIVEN" atau rangsangan dari luar din konsumen. Dengan adanya rangsangan atau stiJ"11ulus tersebut maka konsumen akan terpengaruh dan apabila berhasil maka konsumen tersebut akan tertarik dan kemudian membeli produk perusahaan itu dan selanjutnya diharapkan akan selalu terjadi pembelian yang berulang-ulang karena konsumen menjadi puas akan ptoduk yang dibelinya itu. Dari uraiantersebut maka ditinjau dari sudut pandangan para pengusaha maka !!.ro~~
P~'!:~~~9..~ !!ler1!~ka_~_pr~~_~e_nta. n.~_~f!9i '?29~~ p~mgu sa ha dopa t mempengaruhi konsumen agar konsumen tersebliT-menjadl-
ter£arik-7ta1iu~-sernlng:~kemud ian---r:ne~~el i_~~~~y~-l:~~_s
terhad~~~~~~~~ ~ang :dlpasar1COm1ya. p):~- ---
,/' , ....
(i' C~ ~
Ii
\\ 'l
\- $ '),'~', . ~./
\\ ',"1"":' " ..... , •.
\\ t.., .••..• ~ t\ \ .. _\ f,r~:~):~ .. /
Langkah awal yang biasanya dilakukan 0Ie~6~~('1~~isaran dalpm rangka upaya untuk menjalankan fungsinya yaitu proses pemasaran adalah melakukan "Analisa Pasar" atau "Analisa Potensi Pasar". Dalam hat ini kita berusaha untuk dapat memperhitungkan berapa besar potensi pasar yang dapat dilayani 'oleh perusahaan. Besarnya potensi pasar ini tentu saja akan berkaitan erat dengan bal'lyak sedikitnya kebutuhan masyarakat akan produk yang dihasilkan perusahaan itu. Banyak sedikitnya kebutuhan akan sangat diteQtukan oleh banyaknya orang' atau anggota masyarakat yang memiliki kebutuhan tersebut. Banyaknya orang yang memiliki kebutuhan akan prod uk tersebut itulah yang merupakan basis perhitungan potensi pasar bagi perusahaan itu. Perlu dipahami di sini ten tang adanya pengertian atau definisi pasar yang sering menyesatkan para me.; lasiswa


\158 I Penganlar Bisnls

6.2. PENGERTIAN PASAR
Langkah awal yang biasanya dilakukan 0Ie~6~~('1~~isaran dalpm rangka upaya untuk menjalankan fungsinya yaitu proses pemasaran adalah melakukan "Analisa Pasar" atau "Analisa Potensi Pasar". Dalam hat ini kita berusaha untuk dapat memperhitungkan berapa besar potensi pasar yang dapat dilayani 'oleh perusahaan. Besarnya potensi pasar ini tentu saja akan berkaitan erat dengan bal'lyak sedikitnya kebutuhan masyarakat akan produk yang dihasilkan perusahaan itu. Banyak sedikitnya kebutuhan akan sangat diteQtukan oleh banyaknya orang' atau anggota masyarakat yang memiliki kebutuhan tersebut. Banyaknya orang yang memiliki kebutuhan akan prod uk tersebut itulah yang merupakan basis perhitungan potensi pasar bagi perusahaan itu. Perlu dipahami di sini ten tang adanya pengertian atau definisi pasar yang sering menyesatkan para me.; lasiswa


\158 I Penganlar Bisnls
Langkah awal yang biasanya dilakukan 0Ie~6~~('1~~isaran dalpm rangka upaya untuk menjalankan fungsinya yaitu proses pemasaran adalah melakukan "Analisa Pasar" atau "Analisa Potensi Pasar". Dalam hat ini kita berusaha untuk dapat memperhitungkan berapa besar potensi pasar yang dapat dilayani 'oleh perusahaan. Besarnya potensi pasar ini tentu saja akan berkaitan erat dengan bal'lyak sedikitnya kebutuhan masyarakat akan produk yang dihasilkan perusahaan itu. Banyak sedikitnya kebutuhan akan sangat diteQtukan oleh banyaknya orang' atau anggota masyarakat yang memiliki kebutuhan tersebut. Banyaknya orang yang memiliki kebutuhan akan prod uk tersebut itulah yang merupakan basis perhitungan potensi pasar bagi perusahaan itu. Perlu dipahami di sini ten tang adanya pengertian atau definisi pasar yang sering menyesatkan para me.; lasiswa


\158 I Penganlar Bisnls
Langkah awal yang biasanya dilakukan 0Ie~6~~('1~~isaran dalpm rangka upaya untuk menjalankan fungsinya yaitu proses pemasaran adalah melakukan "Analisa Pasar" atau "Analisa Potensi Pasar". Dalam hat ini kita berusaha untuk dapat memperhitungkan berapa besar potensi pasar yang dapat dilayani 'oleh perusahaan. Besarnya potensi pasar ini tentu saja akan berkaitan erat dengan bal'lyak sedikitnya kebutuhan masyarakat akan produk yang dihasilkan perusahaan itu. Banyak sedikitnya kebutuhan akan sangat diteQtukan oleh banyaknya orang' atau anggota masyarakat yang memiliki kebutuhan tersebut. Banyaknya orang yang memiliki kebutuhan akan prod uk tersebut itulah yang merupakan basis perhitungan potensi pasar bagi perusahaan itu. Perlu dipahami di sini ten tang adanya pengertian atau definisi pasar yang sering menyesatkan para me.; lasiswa


\158 I Penganlar Bisnls
Langkah awal yang biasanya dilakukan 0Ie~6~~('1~~isaran dalpm rangka upaya untuk menjalankan fungsinya yaitu proses pemasaran adalah melakukan "Analisa Pasar" atau "Analisa Potensi Pasar". Dalam hat ini kita berusaha untuk dapat memperhitungkan berapa besar potensi pasar yang dapat dilayani 'oleh perusahaan. Besarnya potensi pasar ini tentu saja akan berkaitan erat dengan bal'lyak sedikitnya kebutuhan masyarakat akan produk yang dihasilkan perusahaan itu. Banyak sedikitnya kebutuhan akan sangat diteQtukan oleh banyaknya orang' atau anggota masyarakat yang memiliki kebutuhan tersebut. Banyaknya orang yang memiliki kebutuhan akan prod uk tersebut itulah yang merupakan basis perhitungan potensi pasar bagi perusahaan itu. Perlu dipahami di sini ten tang adanya pengertian atau definisi pasar yang sering menyesatkan para me.; lasiswa


\158 I Penganlar Bisnls
Langkah awal yang biasanya dilakukan 0Ie~6~~('1~~isaran dalpm rangka upaya untuk menjalankan fungsinya yaitu proses pemasaran adalah melakukan "Analisa Pasar" atau "Analisa Potensi Pasar". Dalam hat ini kita berusaha untuk dapat memperhitungkan berapa besar potensi pasar yang dapat dilayani 'oleh perusahaan. Besarnya potensi pasar ini tentu saja akan berkaitan erat dengan bal'lyak sedikitnya kebutuhan masyarakat akan produk yang dihasilkan perusahaan itu. Banyak sedikitnya kebutuhan akan sangat diteQtukan oleh banyaknya orang' atau anggota masyarakat yang memiliki kebutuhan tersebut. Banyaknya orang yang memiliki kebutuhan akan prod uk tersebut itulah yang merupakan basis perhitungan potensi pasar bagi perusahaan itu. Perlu dipahami di sini ten tang adanya pengertian atau definisi pasar yang sering menyesatkan para me.; lasiswa


\158 I Penganlar Bisnls
Langkah awal yang biasanya dilakukan oleh manajer pemasaran dalam rangka upaya untuk menjalankan fungsinya yaitu proses pemasaran adalah melakukan "Analisa Pasar" atau "Analisa Potensi Pasar". Dalam hal ini kita berusaha untuk dapat memperhitungkan berapa besar potensi pasar yang dapat dilayani oleh perusahaan. Besarnya potensi pasar ini tentu saja akan berkaitan erat dengan banyak sedikitnya kebutuhan masyarakat akan produk yang dihasilkan perusahaan itu. Banyak sedikitnya kebutuhan akan sangat ditentukan oleh banyaknya orang atau anggota masyarakat yang memiliki kebutuhan tersebut. Banyaknya orang yang memiliki kebutuhan akan produk tersebut itulah yang merupakan basis perhitungan potensi pasar bagi perusahaan itu. Perlu dipahami disini tentang adanya pengertian atau definisi pasar yang sering menyesatkan para mahasiswa bahwa pasar adalah tempat bertemunya pembeli dan penjual. Pengertian ini merupakan pengertian pasar dalam artian umum. Pengertian macam ini tidak dapat digunakan secara operasional bagi pengusaha dalam rangka memasarkan barang dan jasa yang dipasarkannya. Hal ini disebabkan karena pengusaha harus mampu untuk mempengaruhi pasar dan bahkan kemudian haruslah mampu untuk menguasai pasar.
Dengan penguasaan pasar yang baik maka pengusaha akan mampu menjalin hubungan timbal balik yang akrab antara kedua belah pihak. Sedangkan kalau kita artikan pasar itu adalah sebagai tempat bertemunya pembeli dan penjual maka untuk menguasai pasar berarti pengusaha harus menguasai tempat bertemunya, pembeli dan penjual itu, yang mana hal ini tidak mungkin dilakukan oleh pengusaha tersebut. Oleh karena itu maka pasar di mata pandangan pengusaha atau pemasaran adalah berupa “orang atau kumpulan orang yang memiliki keinginan dan kebutuhan serta mempunyai kemampuan untuk membayar guna memenuhi kebutuhannya itu”. Dengan pengertian ini maka pasar pada hakikatnya adalah anggota masyarakat yang memiliki kebutuhan akan produk yang ditawarkan oleh pengusana ltu. Dengan definisi ini pula maka pengusaha dapat melakukan stimuIan tertentu agar pengusaha dapat mempengaruhi pasar dan kemudian dapat menguasainya.
Perhitungan terhadap besamya potensi pasar itu tentu saja akan ditentukan oleh beberapa faktor. Adapun faktor-faktor tersebut adalah berupa jumlah orang yang membutuhkan barang tersebut, tingkat rata-rata penggunaan per-orang serta harga produk yang berlaku. Semakin banyak orang yang membutuhkan tentu Semakin besar potensi pasarnya, semakin banyak tingkat penggunaan per-orang juga akan semakin tinggi potensi pasarnya sedangkan semakin tinggi harga akan mempersempit potensi pasar. Ketiga faktor tersebut dapat kita rumuskan dalam persamaan sebagai berikut :
M = N.U. P
Di mana:
M = Potensi Pasar (Market)
N = Jumlah orang yang membutuhkqn.
U = Tinggi rendahnya tingkat penggunaan per orang.
P = Tingginya harga produk tersebut.

Adapun faktor-faktor tersebut terutama faktor pertama (N) dan kedua (U) akan dapat melebar dan dapat pula menyempit. Beberapa hal yang dapat mempengaruhi pelebaran ataupun penyempitan luas potensi pasar tersebut adalah :
- Struktur Penduduk.
- Daya Beli.
- Pola Konsumsi.
Struktur penduduk adalah merupakan komposisi periduduk yang menunjukkan berapa banyaknya penduduk dari masing-masing golongan penduduk. Misalnya saja pembagian penduduk menurut jenis kelamin sehingga dapat diketahui berapa wanita dan berapa prianya. Pembagian penduduk menurut umur dapat diketahui berapa jumlah penduduk dengan tingkat umur tertentu, sehingga dapat diketahul berapa jumlah orang dewasa, anak-anak, angkatan kerja, orang jompo, pasangan usia subur dan sebagainya. Masing-masing jenis penggolongan penduduk tersebut akan sangat menentukaIi besarna kebutuhan bagi masing-masing golongan, sehingga kita dapat memperkirakan berapa Iuas pasar untuk pakaian sekolah anak-anak SD, SMP ataupun SMA misalnya. Begitu pula kita juga dapat memperkirakan berapa banyak alat-alat kontrasepsi yang dibutuhkan masyarakat karena kita tahu berapa banyak Pasangan Usia Subur atau PUS dan sebagainya.
Daya beli masyarakat akan dapat diKetahui dari besar kecilnya atau tinggi rendahnya tingkat penghasilan masyarakat. Semakin tinggi tingkat penghasilan masyarakat tentulah akan semakin meningkatkan daya beli masyarakat itu. Apabila penghasilan masyarakat meningkat maka claya belinya juga akan meningkat. Begitu pula bagi golongan yang berpenghasilan tinggi akan memiliki daya beli atau kemampuan membeli yang Iebih besar pula. Hal ini tentu akan mempengaruhi (luas dan sempitnya potensi pasar yang ada bagi suatu produk tertentu. Dengan kemampuan membeli yang lebih tinggi akan meningkatkan tingkat penggunaan perorang. Misalnya saja orang yang berpenghasilan tinggi akan memiliki kebutuhan baju yang lebih banyak dari orang yang berpenghasilan rendah. Di samping jumlah baju yang dibelinya akan lebih banyak begitu pula jenis dan kualitas baju yang akan dibelinyapun pasti lebili banyak dan lebih baik.
Pola konsumsi merupakan komposisi pengeluaran yang biasanya dilakukan oleh masyarakat. Hal ini meliputi berapa persen penghasilan masyarakat dipergunakan untuk memenuhi kebutuhan makanan, minuman clan pakaian, berapa persen untuk kebutuhan perumahan, berapa banyak untuk kebutuhan pendidikan, berapa untuk kesehatan dan begitu pula berapa yang untuk keperluan rekreasi misalnya. Pola konsumsi ini akan menentukan jenis-jenis kebutuhan masyarakat dan dengan demikian akan menentukan besar kecilnya potensi pasar bagi suatu produk tertentu.
Ketiga faktor tersebut apabila kita gambarkan clapat kita Iihat sebagai berikut:
- Pola konsumtif
- Daya beli
- Struktur dasar
Perlu disadari bahwa potensi pasar yang tergambar di atas adalah merupakan potensi pasar secara keseluruhan terhadap suatu produk tertentu. Potensi pasar ini akan menjadi perebutan bagi para pengusaha yang terjun dan bergerak serta bersaing dalam bisnis produk itu. Dengan adanya persaingan dari para pengusaha tersebut maka akan mempengaruhi bagian pasar Iangsung dapat dikuasai oleh masing-masing pengusaha. Bagi pengusaha yang lebih pandai dalam mempengaruhi konsumennya dibandingkan dengan pengusaha yang lain tentu saja akan dapat meraih bagian pasar atau "Pangsa Pasar" atau "Market Share" yang lebih banyak katimbang pengusaha lain yang kurang pandai dalam memasarkan produknya.

6.3. BENTUK – BENTUK PERSAINGAN
Dengan adanya perebutan diantara para pengusaha dalam memperebutkan pengaruhnya kepada konsumen maka akan timbulah persaingan. Semakin banyak pengusaha yang terjun dan bersaing dalam suatu produk atau bisnis tertentu akan semakin mempertinggi atau mempertajam tingkat persaingan yang terjadi. Sebaliknya semakin sedikit jumlah pengusaha yang bersaing tentu saja akan memperingan taraf persaingannya. Persaingan yang semakin tajam akan cenderung untuk lebih banyak penggunaan harga sebagai alat persaingan mereka artinya pesaing akan cenderung untuk saling menurunkan harga jual produknya guna merebut hati para konsumennya. Hal ini sering dikenal sebagai "Perang Harga". Perang harga ini yang pada umumnya tidak disenangi oleh para pengusaha karena dengan semakin menurunnya harga jual tentu saja tingkat margin keuntungannya juga akan semakin kecil. Bahkan apabila sudah terjadi perang harga yang semakin menghebat maka pengusaha banyak yang berani menjual produknya dengan harga jual di bawah harga pokok atau biaya produksinya. Dengan kata lain mereka berani merugi untuk saling memperebutkan pasar itu.
Sehubungan perebutan pasar yang berupa persaingan tersebut kita dapat membedakan beberapa bentuk persaingan yaitu:
- Persaingan Sempuma (Pure Competition).
- Persaingan Monopolistik (Monopolistic Competition).
- Persaingan Oligopoli (Oligopolistie Competition).
- Monopoli (Monopoly)
Bentuk persaingan sempurna merupakan bentuk persaingan di mana terdapat sangat banyak pengusaha yang terjun di pasar untuk melayani suatu produk tertentu dan pada umumnya pengusaha yang terjun di pasar adalah pengusaha-pengusaha keeil. Dengan sangat banyaknya pengusana yang bersaing maka seperti telah diuraikan di atas persaingan harga akan sangat tajam. Bentuk persaingan ini sangat tidak disenangi oleh para pengusaha. Kita juga harus menghindarkan diri dari bentuk persaingan macam ini. Dalam bentuk persaingan ini berarti pengusaha yang terjun di pasar tidak memilik penguasaan pasar. Pengusaha tidak dapat menanamkan pengaruhnya kepada konsumen. Pengaruh satu-satunya hanyalah harga, sehinggi terjadilah perang harga. Keadaan ini merupakan posisi persaingan yang paling buruk yang dialami oleh pengusaha. Pengusaha haruslah berusaha untuk memperbaiki posisi persaingan menjadi bentuk persaingan yang lain yang lebih baik. Posisi persaingan berikutnya adalah yang lebih baik.
Bentuk persaingan Monopolistik merupakan bentuk di mana pengusaha yang terjun dalam kancah persaingan tidak terlalu banyak sehingga daIam haI ini pengusaha dapat menanamkan pengaruhnya kepada konsumen. Pengusaha dapat mempengaruhi konsumen dengan alat-alat pemasarannya (Marketing Mix) yang lain dan tidak hanya semata-mata dengan harga saja. MisaInya saja pengusaha dapat menggunakan alat berupa Merek dagangnya, bungkusnya yang menarik, kualitas atau tingkat kehalusan produknya, promosinya ataupun cara penyaluran dan pelayanannya. Penggunaan alat non harga dalam persaingan disebut "Nonprice Competition", sedangkan penggunaan harga sebagai alat persaingan disebut "Price Competition". Dengan demikian dalam bentuk persaingan yang lebih baik ini maka penggunaan harga sebagai alat persaingan menjadi kurang dominan.
Bentuk persaingan yang selanjutnya merupakan posisi persaingan yang lebih tinggi lagi bagi pengusaha yang mampu untuk meraihnya yaitu Persaingan OIigopoli. Dalam persaingan ini hanya ada sedikit saja jumIah pengusaha yang bergerak di pasar dan pada umumnya merupakan perusahaan besar. Dalam kondisi ini penggunaan harga sebagai alat Persaingan sangat minim atau marginal. Persaingan akan berlangsung terutama dengan menggunakan alat-alat non harga seperti kualitas produk, bentuk bungkus merek dagang, promosi serta distribusi yang lebih memuaskan para konsumennya.
Bentuk persaingan yang terakhir adalah bentuk persaingan Monopoli. Dalam hal ini hanya ada satu pengusaha yang merupakan satu-satunya perusahaan yang melayani kebutuhan seluruh masyarakat dan karena hanya ada satu maka tentu saja akan merupakan perusahaan yang sangat besar atau raksasa. Sebagai misal di Indonesia adalah Perusahaan Listrik Negara atau PLN, Perum Telkom, Perumka, Pertamina dan sebagainya. Bentuk persaingan ini bagi usaha swasta tidak diperkenankan di Indonesia.

6.4. JENIS - JENIS PASAR
Seperti telah diuraikan di muka bahwa pengusaha yang akan memasarkan produknya berusaha untuk melayani kebutuhan masyarakat dan harus terjadi hubungan baik antara keduanya. Pengusaha harus memanfaatkan segala sumber daya yang ada baik material, mesin-mesin, tenaga kerja maupun keuangan untuk dapat melayani masyarakat yang menjadi pasar bagi usahanya. Hubungan timbal balik tersebut berupa pengusaha menyajikan produk yang dapat digunakan oleh masyarakat atau konsumen untuk memenuhi kebutuhannya, sedangkan konsumen membayarkan uangnya atas produk yang dibelinya. Masyarakat yang merupakan pasar bagi pengusaha tersebut dapat kita bedakan menjadi beberapa macam jenis, dimana dalam hal ini pasar dapat dibedakan menjadi 4 macam jenis yaitu:
- Pasar Barang Konsumen (Konsumsi).
- Pasar Barang Industrial (Industri).
- Pasar Pemerintah.
- Pasar Internasional.

PENGERTIAN LAIN DARI PEMASARAN
Pemasaran adaIah suatu fungsi perusahaan yang selalu berusaha menjawab tantangan perubahan Iingkungan. Definisi ini tampak sangat berbeda dengan definisi-definisi yang lain, yang dikemukakan dalam Iiteratur pemasaran. DaIam textbook pada umumnya pemasaran didefinisikan sebagai semua kegiatan yang menyangkut perencanaan dan pengendaIian terhadap aliran barang dari produsen ke konsumen. Terdapat pula definisi yang lain yang mendefinisikan pemasaran sebagai semua kegiatan untuk memenuhi kebutuhan konsumen dan kemudian memperoleh keuntungan dari kepuasan konsumen tersebut. Definisi yang disebutkan paling awal tersebut dimaksudkan untuk menitikberatkan perhatian pada hubungan antara bagian pemasaran dengan bagian lain dalam perusahaan, khususnya dalam hubungan dalam kaitannya dengan perumusan strategi perusahaan (Corporate Strategy/Corporate Plan). Untuk keperluan tersebut maka kita harus melihat hubungan antara perusahaan dengan Iingkungannya, baik Iingkungan usaha, sosial, perundang-undangan, politik dan sebagainya.
Perusahaan yang tidak mampu menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan yang terjadi di dalam lingkungannya akan mengalami kesulitan dan mungkin akan jatuh pailit. Sebaliknya apabila perusahaan dapat menyesuaikan diri dengan lingkungannya maka dia akan memperoleh kemajuan usaha dan berkembang.
Usaha untuk selalu dapat menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan lingkungan adalah Corporate Plan (Corporate Strategy). Oleh karena itu kita harus melihat adanya perubahan-perubahan tersebut dan mengatur kemampuan kita untuk dapat menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan tersebut dan kemudian menyusun rencana untuk menyesuaikannya. Proses penyesuaian diri dengan lingkungannya tersebut haruslah diikuti oleh semua bagian yang ada dalam perusahaan baik bagian produksi, keuangan, personalia maupun administrasi.
Di pihak lain ada yang mendefinisikan pemasaran sebagai suatu kegiatan yang mendapatkan dan menjembatani penyaluran dan peningkatan taraf hidup. Definisi ini terlalu luas, disini termasuk usaha bagaimana untuk memenuhi kebutuhan masyarakat dan mengarahkan taraf hidup pada taraf hidup yang lebih baik.
Perbedaan utama antara definisi yang pertama yang terlalu sempit dan yang kedua yang terlampau luas adalah terletak pada titik berat pandangannya. Definisi yang pertama menitikberatkan pada pandangan mikro, sedangkan yang kedua berpandangan makro. Titik berat pandangan mikro adalah pada kegiatan yang dilakukan oleh perusahaan atau suatu organisasi, sedangkan perumusan makro bertitik berat pada pengaturan masyarakat
Pertanyaannya adalah jawaban mana yang benar ? Jawabannya adalah bahwa pemasaran mengandung kedua-duanya, sebab pada kenyataannya memang pemasaran meliputi kedua aspek tersebut, baik aspek makro maupun aspek mikro. Hal ini dapat dipahami dengan melihat bahwa suatu perusahaan haruslah membuat barang yang sesuai dengan kebutuhan dan keinginan konsumen, dan tidak hanya asal membuat barang. Begitu pula halnya sebuah Bank, Kursus Stir Mobil, Salon Kecantikan, Rumah Sakit dah sebagainya. Mereka harus mengatur produksinya sesuai dengan kebutuhan dan keinginan konsumen baik terhadap harganya, penyalurannya, cara promosi serta mengatasi persaingan yang dihadapinya, ini adalah tujuan mikro. Lebih jauh dari itu di masyarakat terdapat berbagai macam kebutuhan yang harus dipenuhi oleh para pengusaha, pimpinan organisasi kemasyarakatan dan bahkan pemerintah. Masyarakat membutuhkan suatu sistem pemasaran yang mengatur kegiatan penyaluran kebutuhan tersebut yang dilakukan oleh para produsen dan perantara agar kegiatan penyaluran kebutuhan tersebut dapat berjalan secara efisien dan efektif. Tinjauan ini menunjukkan aspek sosial kemasyarakatan atau aspek makro.


6.5. MANAJEMEN PEMASARAN
Setelah mengetahui tentang perkembangan konsep pemasaran, maka kita dapat mengetahui bahwa perumusan konsep pemasaran memberikan arah pedoman dasar bagi kegiatan seluruh perusahaan. Sekarang kita melihat lebih lanjut tentang bagaimana manajer pemasaran membantu perusahaan dalam mencapai tujuannya, ini adalah tugas dari manajer pemasaran. Adapun tugas-tugas manajer pemasaran adalah:
1. Perencanaan terhadap kegiatan pemasaran.
2. Menggiatkan pelaksanaan kegiatan pemasaran.
3. Pengendalian kegiatan pemasaran.

STRATEGI PERUSAHAAN (PEMASARAN STRATEGIS DAN STRATEGI PEMASARAN)
Judul tersebut di atas sengaja diutarakan demikian untuk memancing pemikiran pak dosen Erfan Rusdi, SKom agar menjelaskan perbedaan isinya dan perbedaan implikasinya di dalam praktek kehidupan baik dalam bidang pemasaran maupun dalam kehidupan sebari-hari, dalam hal ini kita sebenarnya berhubungan kata strategi dengan kata operasional.
Pemasaran Strategis mengacu pada faktor strategis sedangkan strategi pemasaran mengacu pada faktor operasional atau pelaksanaan kegiatan pemasaran seperti penentuan harga, pembungkusan, pemberian merek, penentuan saluran distribusi, pemasangan iklan dan sebagainya. Kegiatan pemasaran itu sering dikenal dengan sebutan Marketing Mix yang juga dikenal dengan singkatan 4P sebagai singkatan dati Product, Price, Place dan Promotion. Perbedaan antara kata strategi dan operasional dapat dijelaskan dengan baik dengan mengikuti ungkapan kalimat sebagai berikut :
a. Anda telah melakukan tindakan yang benar (You did the right thing).
b. Anda telah melakukan tindakan itu dengan benar (You did the thing right).
Kalimat yang pertama mengandung arti strategis sedangkan kalimat kedua mengandung arti operasional. Hal itu dapat diperjelas lagi dengan mengikuti contoh sebagai berikut misalnya seorang sopir dari sebuah perusahaan yang mencuci mobil majikannya dengan bagus sekali sehingga mobil menjadi bersih, mengkilap, tanpa ada bekas goresan sedikit pun pada cat mobil tersebut. Apabi!a pekerjaan tersebut dilakukan pada saat perusahan sedang sibuk dan banyak pekerjaan yang harus ditangani dan majikannya ternyata kemudian membutuhkan mobil untuk dipakainya, akan tetapi beliau menjadi sangat kecewa karena mobilnya sedang dicuci, maka dalam hal itu sopir tersebut telah melakukan pekerjaan yang tidak strategis meskipun pekerjaan itu telah dilakukannya dengan cara benar.

Keadaan tersebut dapat merupakan pekerjaan yang strafegis apabila sopir tersebut mengerjakannya dengan mempertimbangkan terlebih dahulu keadaan perusahaan. Apabila ternyata perusahaan sedang tidak sibuk maka sopir itu telah melakukan pekerjaan secara strategis karena keadaan yang sepi itu menunjukkan kemungkinan yang kecil bahwa mabil itu akan dibutuhkan. Oleh karena itu maka kita haruslah mempertimbangkan kedua hal tersebut di atas yaitu Pertama, memilih tindakan yang benar (pemasaran Strategis) dan kemudian berusaha melakukan yang telah kita pilih (strategis) tadi dengan cara yang benar (strategi pemasarannya). Tindakan yang akan kita lakukan haruslah kita analisa seningga kita dapat melakukan tindakan yang benar (strategis).
Tindakan yang tidak direncanakan dengan baik akan berakibat tindakan tersebut tidak strategis (benar) atau dengan kata lain salah. Tindakan yang telah dipilih tersebut selanjutnya haruslah pula kita rencanakan lebih lanjut agar tindakan yang strategis itu dapat kita lakukan dengan benar. Perencanaan pada tahap ini disebut perencanaan operasional sedangkan pada tahap sebelumnya disebut "Perencanaan Strategis”.
lsi tulisan ini berusaha untuk mencoba menguraikan apa serta bagaimana proses perencanaan tersebut harus dilakukan sehingga perusahaan dapat mencapai tujuan yang diharapkan, baik berupa laba, atau bukan laba misalnya Rumah Sakit, Lembaga Pemerintahan, Lembaga Sosial, Lembaga Kebudayaan dan sebagainya. Tulisan ini terutama menguraikan strategi dan perencanaan operasional bagi organisasi yang berorientasi keuntungan finansial (laba), akan tetapi konsep-konsepnya dapat juga diserap dan diterapkan bagi organisasi yang tidak bermotif mencari keuntungan seperti yang telah disebutkan di atas. Untuk keperluan tersebut maka contoh-contoh diusahakan akan bervariasi baik perusahaan yang bermotif mencari keuntungan maupun yang tidak bermotif mencari keuntungan. Suatu Partai Politik misalnya, sebenarnya dapat ditinjau pula sebagai organisasi yang menjual produk/jasa. Jasa yang dijualnya adalah konsep atau program partai dari Partai Politik tersebut. Bagaimana konsep Partai sebagai suatu produk itu dapat diterima oleh masyarakat yang belum memakainya, bagaimana memelihara agar pemakai (penganut) program Partai tersebut dapat memperoleh kepuasan batinnya dan tidak pindah kepada produk lain (Partai lain) dan sebagainya, adalah tidak berbeda prinsipnya dengan konsep-konsep pemasaran yang berusaha memasarkan produk kepada masyarakat, tentu saja dengan motif yang lain yaitu motif memperoleh keuntungan finansial dari transaksi pembelian produk dan kepuasan pemakainya.
Apalagi dengan perkembangan konsep pemasaran yang pada saat ini berlangsung yang tidak lagi berpijak pada konsep menjual barang (konsep penjualan) tetapi berkembang menjadi konsep membuat kepuasan konsumen. Dalam konsep penjualan, keuntungan diperoleh dengan terjadinya transaksi penjualan. Dengan terjadinya transaksi penjualan itu maka perusahaan akan memperoleh keuntungan. Konsep ini telah menyesatkan karena usaha pemasaran hanyalah menciptakan terjadinya transaksi penjualan, tidak melihat apakah pembeli memperoleh kepuasan atau tidak dari barang yang dibelinya tersebut.
Konsep pemasaran yang berorientasi pada pasar berawal dan sekaligus berakhir pada pasar atau konsumen atau pemakai atau pembeli yaitu kepuasan mereka dari adanya transaksi pembelian atau pemilikan barang tersebut. Apabila pemakai tidak puas maka mereka akan bereaksi, mulai dari reaksi yang pasif dan tidak berbahaya bagi perusahaan sampai dengan reaksi yang berbahaya bagi perusahaan. Reaksi pasif misalnya mereka diam saja dan tidak lagi membeli barang tersebut di kemudian hari dan kemudian dia akan pindah atau membeli produk/barang dari perusahaan lain (pesaing). Reaksi aktif misalnya mereka tidak diam melainkan lalu menceritakan ketidakpuasannya tersebut kepada tetangga, teman bermain, teman sekolah, teman sekerja dan bahkan mungkin pada teman naik bis/kereta api dalam perjalanannya ke tempat kerja rnisalnya. Lebih dari itu ada pula reaksi yang bersifat agresif yaitu, mereka menuntut ganti rugi atas ketidakpuasan tersebut di atas. Tugas Manajer (Manajer Pemasaran) adalah membuat rencana baru yang strategis maupun yang operasional agar terjadi keadaan : "kita melakukan tindakan yang benar dan tindakan yang benar tersebut kita lakukan pula, dengan cara yang benar pula". lnilah yang dimaksudkan dengan pemasaran strategis dan strategi pemasaran. Kita haruslah memilih dan merencanakan kegiatan/tindakan pemasaran itu sehingga tindakan tersebut adalah tindakan yang benar (strategis) dan kemudian kita membuat perencanaan lebih lanjut untuk menjabarkan perencanaan strategis tersebut ke dalam perencanaan operasional sehingga tindakan kita dapat berjalan dengan cara yang benar beserta strategi pemasaran yang benar pula. Usaha itu tidak lain adalah ditujukan untuk memberikan kepuasan kepada konsumen dan bukan hanya sekedar menjual barang kepada konsumen.

PASAR DAN ORlENTASI PASAR
Pengusaha harus mengenal pasarnya dengan baik agar dapat memenuhi/melayaninya dan menguasainya. Pengusaha yang tidak mengenal pasarnya dapat diumpamakan sebuah kapal di tengah samudera tanpa kompas dan tidak dapat melihat bintang di langit yang sedang tertutup awan mendung. Dia akan berlayar tanpa arah dan akan terbawa kemana angin bertiup sehingga kalau toh dia sampai di tempat yang di tuju itu hanyalah secara kebetulan saja. Dengan mengenal pasar kita akan tahu kemana kita harus menuju sehingga apabila memang arah angin sesuai dengan tujuan maka kita dapat memacu kecepatan, sedangkan bila tidak sesuai maka kita harus mampu merubah jalannya kapal meskipun harus tidak searah dengan arah angin.
Pasar ditinjau dari segi pengusaha adalah sekumpulan orang yang memiliki kebutuhan yang serupa dan bersedia untuk membayar guna memenuhi kebutuhan mereka itu. Pengusaha yang berorientasi pasar selalu meninjau kegiatannya atas dasar kebutuhan pasar yang dihadapinya. Sedangkan pengusaha yang berorientasikan produksi mendasarkan diri pada barang yang dihasilkannya.

6.6. POTENSI PASAR / KESEMPATAN PASAR
Mendapatkan target pasar yang menarik merupakan bagian utama dari Pemasaran Startegis. Pada umumnya kita tidak perlu harus melayani kebutuhan semua orang. Agar berhasil justru kita dapat menitikberatkan pada sebagian dari konsumen yang cukup luas dimana mereka itu bersedia untuk membayar atas pelayanan atau pemenuhan kebutuhan mereka tersebut. Tidak semua orang bersedia membayar untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan mereka. Inilah yang disebut Target Marketing dan hal ini dapat kita lakukan dengan Segmentasi Pasar, kemudian kita pilih segmen pasar tertentu yang kita jadikan sebagai sasaran atau Target. Sasaran pasar yang cukup menarik akan merupakan kesempatan pasar atau Market Opportunity. Kesempatan pasar dari suatu perusahaan merupakan sasaran yang dapat dijangkau oleh faktor-faktor atau samna yang dimiliki oleh perusahaan. Sasaran yang di luar jangkauan sarana produksinya bukanlah merupakan kesempatan pasar baginya. Pada umumnya kesempatan pasar yang cukup menarik berada di sekitar pasar yang sudah dikuasai oleh perusahaan yang masih berada dalam jangkauan kekuatan dan kelemahan perusahaan itu.
1. Penguasaan Pasar
Dengan melihat gambar tersebut kita dapat memikirkan cara untuk menemukan kesempatan pasar atau potensi pasar. Keempat bidang dalam gambar tersebut rnerupakan kesempatan yang dapat dilakukan oleh penlsahaan. Bidang yang paling dekat dengan keadaan perusahaan pada saat ini adalah pada bidang Nomor 1. Bidang ini adalah bidang yang kita alami pada saat ini, yaitu kita berada pada posisi pasar yang saat ini kita hadapi (lama) dengan produk yang kita tawarkan pada saat ini (lama) pula. Kesempatan yang terbuka pada bidang ini adalah melakukan penguasaan pasar agar penjualan kita dapat bertambah, biasanya dilaksanakan dengan cara mengadakan kombinasi/bauran pemasaran (Marketing Mix) yang lebih agresif. Sasaran yang harus dicapai dalam hal ini adalah :
- Manaikkan tingkat penggunaan barahg agar konsumen membeli lebih banyak.
- Menarik langganan dari pesaing kita.
- Menarik orang yang belum memakai barang tersebut

Sebagai contoh cara tersebut adaIah :
Harga obral.
- Re dekorasi toko yang lebih menarik.
- Advertensi baru yang lebih menarik.
- Potongan harga.
- Pelayanan yang lebih menarik.
Para pengusaha pada umumnya hanya terpaku pada bidang yang pertama ini saja. Tidak atau jarang yang berusaha untuk melihat kesempatan yang lebih jauh yaitu pada ketiga bidang yang lain. Hal ini dapat dimengerti karena di situlah yang paling dikuasainya, akan tetapi agar lebih berhasil kita harus memikirkan kesempatan lain yang lebih luas dan tentu saja lebih sukar. Akan tetapi pengusaha adalah penanggung risiko. Dalam hal ini perlu dihayati bahwa risiko yang lebih besar biasanya akan mendatangkan keuntungan yang lebih besar pula.
2. Pengembangan Pasar
Dalam hal ini kita berusaha untuk menaikkan penjualan dengan menjual produk lama ke pasar yang baru. lni bisa dicapai mungkin hanya dengan memasang advertensi pada media lain yang dapat menjangkau pasar baru tersebut : Mungkin juga harus dengan tambahan saluran distribusi untuk daerah baru, misalnya ayam goreng “AA” membuka cabang baru di Kota lain atau di dekat Kampus, dekat Rumah Sakit, di Pusat Kota dan sebagainya.

3. Pengembangan Produk
Kita dapat menawarkan produk baru atau modifikasi dari produk lama kepada pasar lama. Dalam hal ini perusahaan harus mengetahui kebutuhan dan keinginan konsumen atau pasar dan harus melihat perubahan apa yang harus dilakukan terhadap produknya. Hal ini bisa meliputi bentuknya, kualitasnya, jenisnya atau tipe baru dari padanya, sehingga dapat memberikan kepuasan yang lebih besar bagi konsumennya. Misalnya Toko "AA" memberikan ruang untuk permainan anak-anak agar lebih menarik para pengunjungnya.
4. Pengembangan usaha (produk dan pasar)
Kesempatan yang Paling sukar untuk ditempuh adalah menghasilkan produk baru untuk dijual ke pasar yang baru pula. Dalam hal ini baik produk maupun pasar yang dilayani adalah baru maka tentu saja hal ini akan membawa konsekuensi yang jauh lebih sukar karena kita tidak atau belum tahu akan sifat-sifat pasar yang baru tersebut maupun kita juga belum tahu akan kekuatan dan kelemahan dari produk kita yang juga masih baru.
Cara lain yang dapat ditempuh untuk mengetahui adanya potensi pasar adalah :
a. Mempersempit dimensi pasar dengan cara segmentasi pasar. Dengan melakukan segmentasi pasar maka kita dapat melihat adanya jenis kebutuhan yang lain dari konsumen (segment pasar) yang belum terpenuhi. Kebutuhan yang belum terpenuhi ini merupakan potensi pasar yang terbuka. Contohnya kebutuhan beras bagi golongan konsumen yang memerlukan status sosial.
b. Memperluas dimensi pasar dengan cara melihat pasar kebutuhan pangkal (Generic Market atau generic need). Dengan melihat generic market maka kita clapat melihat adanya kesempatan pasar.
c. Melihat adanya Iobang pasar (kebocoran pasar, market leakage). Kebocoran pasar adalah pasar yang seharusnya dapat dilayani akan tetapi pada saat ini belum terlayani.

6.7. SASARAN PASAR
Pasar pada umumnya mencakup medan yang luas, misalnya saja semua orang membutuhkan beras, semua orang membutuhkan pakaian, perumahan, alat-alat rumah tangga, alat dapur, alat tulis dan sebagainya. Tinjauan pasar semacam ini masih terlalu luas bagi seorang pengusaha dan menjadi tidak berarti bagi perencanaan pemasarannya. Agar dapat lebih berarti maka pasar haruslah diartikan lebih sempit lagi sehingga dapat dilihat adanya sasaran pasar (target market).
Manajer yang berorientasi pada pasar harus dapat menyebutkan siapa sasaran pasarnya yaitu kelompok orang yang mana, bukan semua orang. Sasaran pasar mengacu pada sekelompok orang tertentu yang memiliki sifat-sifat serupa. Dengan kemiripan sifat-sifat mereka itu maka pengusaha akan dapat mengenal kesamaan kebutuhan, keinginan, sikap, tingkah laku, gaya hidup, kelompok sosial serta kebudayaan mereka. Di dalam masyarakat akan terdapat kelompok-kelompok yang memiliki sifat-sifat yang identik dari kelompoknya itu yang berbeda dengan keIompok yang lain. Tiap kelompok memiliki sifat yang berbeda dengan kelompok yang lain. MisaInya Orang tua dengan Orang muda, Remaja modern dengan remaja tradisional, Kelompok sosial dengan bawah/menengah, pedagang dengan pegawai negeri.
Dengan mengenal persamaan faktor-faktor tersebut di atas pengusaha dapat melaksanakan kegiatan yang sesuai dengan faktor-faktor yang dimiliki oleh sasaran pasar tersebut, sehingga dapat mendorong mereka untuk membeli produk rnereka saja. Tanpa mengenal faktor-faktor tersebut di atas maka tindakan yang kita lakukan tidak menjamin timbulnya dorongan bagi konsumen untuk membeli produk kita. Faktor-faktor tersebut adalah faktor penentu pembelian. Faktor-faktor tersebut dapat digolongkan menjadi :
1. Faktor pribadi (intern).
2. Faktor kelompok.
3. Faktor lingkungan sosial.
4. Faktor lingkungan budaya.
Mengapa seseorang membeli barang tersebut, hal itu karena pengaruh faktor intern (pribadi) serta ekstern (lingkungan), baik lingkungan kecil yaitu teman, keluarga, kelompok, maupun lingkungan yang lebih luas yaitu lingkungan sosial masyarakat serta budaya. Sebagai contoh si Ivan rnembeli beras Rojolele atau Cianjur, sedangkan yang lain membeli jenis IR 26, yang lain Iagi mernbeli beras Jatah. Mengapa si Ivan rnembeli beras Rojolele atau Cianjur? Tindakannya itu dipengaruhi oleh semua faktor tersebut di atas mulai dari faktor pribadi, keluarga, teman kantor, teman bermain olah raganya, kelompok sosial maupun budayanya. Cobalah pula membayangkan contoh lain dalam pembelian arloji atau pakaian, atau jasa salon kecantikan, misalnya, semua tindakan pembelian terhadap produk tersebut dipengaruhi oleh faktor-faktor penentu pembelian itu.
Faktor-faktor itu, akan menjawab pertanyaan mengapa seseorang membeli arloji merek itu, pakaian itu, salon kecantikan itu dan sebagainya. Dengan mengenal faktor-faktor penentu pembelian tersebut maka kita dapat mengenal bahwa Pasar yang kita hadapi itu adalah berbeda-beda (heterogen). Akan tetapi meskipun berbeda-beda, hal itu dapat kita lihat adanya kesamaan sifat-sifat pribadi serta Iingkungannya. Atau dengan kata lain dapat kita kelompok-kelompokkan ke dalam bagian yang memiliki sifat-sifat yang serupa (homogen). Pengelompokan ini disebut "Segmentasi Pasar". Dengan pengelompokan tersebut maka kegiatan akan dapat dititik beratkan pada salah satu atau beberapa kelompok (segmen) pasar tertentu yang dapat terjangkau dengan baik oleh sarana produksinya sehirigga perusahaan dapat memenuhi kebutuhan pasarnya secara lebih baik dari pada para pesaing-pesaingnya. Apabila perusahaan tidak rnengelompokkan dan mencari sasaran pada sekelompok segmen tertentu dan dia bergerak pada pasar umum yang sangat heterogen maka hal ini berarti dia memperlakukan konsumen yang berbeda-beda itu dengan cara penyampaian/penyajian dan pelayanan atau marketing mix yang sama. Jadi dalam hal ini perusahaan berpandangan bahwa semua orang (konsumen) adalah sama, jadi perlakuan terhadapnya juga sama. Tindakan semacam ini disebut "Undifferentiated Marketing".
Pengusaha dapat mengelompokkan konsumen yang berbeda-beda itu dan kemudian memperlakukannya secara berbeda-beda pula sesuai dengan faktor-faktor pribadi, kelompok kecil maupun kelompok sosial dan budayanya yang berbeda-beda tersebut. Cara ini disebut "Differentiated Marketing". Dalam hal ini pengusaha memberikan perlakuan, penyajian, penyampaian dan pelayanan (marketing mix) yang berbeda terhadap segmen pasar yang berbeda. Cara ini lebih menjamin adanya kemungkinan bahwa perusahaan dapat memperoleh posisi persaingan yang lebih baik (Competitive Advantage). Hal ini disebabkan karena perusahaan dapat memberikan pelayanan yang lebih baik atau lebih sesuai dengan kebutuhan dan keinginan konsumennya dibandingkan dengan pesaing-pesaingnya.

6.8. BAURAN PEMASARAN (Marketng Mix)
Proses pemasaran adalah proses tentang bagaimana pengusaha dapat mempengaruhi konsumen agar para konsumen tersebut menjadi tahu, senang lalu membeli produk yang ditawarkannya dan akhimya konsumen menjadi puas sehingga mereka akan selalu membeli produk perusahaan itu. Bagaimana caranya pengusaha itu agar dapat mempengaruhi konsumennya merupakan hal yang memerlukan perencanaan dan pengawasan yang matang serta perlu dilakukan tindakan-tindakan kongkrit.
Untuk keperluan tersebut pengusaha dapat melakukan tindakan-tindakan yang terdiri dari empat macam yaitu tindakan mengenai :
- Produk (Product).
- Harga (Price).
- Distribusi atau Penempatan Produk (Place).
- Promosi (Promotion).
Keempat macam tindakan tersebut sering disebut sebagai '"BAURAN PEMASARAN atau "MARKETING MIX". Selain dari pada itu karena keempat tindakan tersebut terdiri dari 4 huruf P, maka sering pula dikenal sebagai "4 P" dalam pemasaran yaitu : Product, Price, Place dan Promotion. Bauran Pemasaran atau Marketing Mix tersebut merupakan alat yang dapat dipergunakan oleh pengusaha untuk mempengaruhi konsumennya.
Pengusaha dapat mempengaruhi komsumennya lewat produk yang ditawarkannya kepada konsumen itu. Dalam hal ini dengan membuat produk tersebut sedemikian rupa sehingga produk tersebut dapat menarik perhatian konsumen. Misalnya saja dengan membuat produk dengan warna-warni yang menarik atau bahkan mungkin dengan warna yang mencolok, bungkus yang bagus lagi ekslusif dan sebagainya.
Di samping itu pengusaha dapat pula mencantumkan harga yang rendah serta pemberian discount/potongan harga, mencantumkan harga obral serta harga cuci gudang dan sebagainya. Dengan cara penetapan harga semacam ini akan dapat menarik perhatian serta meodorong konsumen untuk segera melakukan transaksi pembelian agar tidak terlewatkan kesempatan yang terbatas waktunya bagi berlakunya harga obral tersebut.
Cara distribusi yang memenuhi kebutuhan konsumen juga dapat diterapkan agar dapat menarik para konsumen untuk membeli produk yang difawarkannya. Misalnya saja untuk barang kebutuhan sehari-hari distribusinya dibuat sedekat mungkin dengan konsumen agar kebutuhan sehari-harinya yang biasanya memiliki sifat frekuensi pembelian tinggi dengan jumlah kebutuhan yang kecil-kecil itu dapat segera terpenuhi.
Cara lainnya lagi adalah dengan melakukan kegiatan-promosi untuk memperkenalkan produk tersebut sehingga konsumen menjadi kenai dan tahu, ataupun bagi yang sudah kenal dapat menjadi lebih menyenangi produk itu, bahkan bagi yang sudah agak lupa diharapkan agar dapat menjadi ingat kembali akan produk tersebut.
Adapun bauran pemasaran tersebut sebagai alat bagi pengusaha untuk mempengaruhi konsumen agar konsumennya dapat menjadi kenai kemudian menyenangi dan kemudian lalu melakukan transaksi pembelian serta akhimya konsumen itu menjadi puas dapat digambarkan dalam bentuk skema sebagai berikut :












STRATEGI PRODUK
Agar strategi produk kita dapat lebih efektif dalam rangka mempengaruhi konsumen untuk tertarik dan membeli dan kemudian mereka menjadi puas maka kita harus mempelajari beberapa hal tentang strategi ini yaitu :
- Konsep Produk.
- Siklus Kehidupan Produk.
- Jenis-jenis Produk

1. Konsep Produk
Konsep produk merupakan suatu pengertian atau pandangan konsumen terhadap suatu produk yang dibutuhkan dan diinginkannya, Konsumen akan memiliki konsep atau pandangan tertentu terhadap suatu produk misalnya saja terhadap suatu barang yang berupa "sepatu". Apakah arti sepatu ini bagi Konsumen, biasanya dalam memberikan arti ini konsumen memiliki dua arti, Arti pertama adalah arti teknis dari sepatu tersebut bagi konsumen yaitu sepatu adalah sebagai pelindung telapak kakinya.
Dengan memakai sepatu itu maka telapak kakinya akan dapat terlindung dari berbagai barang yang dapat melukai ataupun mengganggu telapak kakinya, Arti teknis atau fungsi teknis dari suatu produk merupakan pangkal tolak dari esensi suatu produk oleh karena itu maka fungsi teknis ini sering disebut sebagai "Produk Pangkal" atau "Generic Product" atau "Produk Generik", Sebagai contoh kongkrit dalam hal ini adalah "Obat Generik" yang sering kita dengarkan dalam suatu tayangan Televisi kita, Obat Generik adalah obat yang hanya berupa obatnya itu sendiri ansih, tanpa mengandung atribut-atribut yang lain seperti bungkus, merek, ataupun label dan sebagainya. Jadi Obat Generik adalah hanya obatnya itu sendiri yang berfungsi sebagai penyembuh suatu penyakit tertentu, tidak ada mereknya tidak ada bungkusnya serta tidak mengandung label atau aturan-aturan pemakaian serta kandungan apa saja yang terdapat pada obat itu dan sebagainya. Sehingga obat semacam ini menjadi lebih murah sehingga terjangkau oleh masyarakat kalangan bawah.
Di samping arti teknis tersebut maka masih terdapat arti yang kedua yang biasanya bersifat nonteknis yaitu sepatu juga dipandangnya tidak hanya semata-mata pelindung telapak kakinya akan tetapi juga terdapat harapan agar dengan memakai sepatu itu dia (konsumen) akan dapat menjadi tampak "bergengsi" atau agar tampak sebagai remaja masa kini, atau agar tampak dewasa ,dan sebagainya.
Arti yang kedua ini Seringdikenal sebagai aspek sosial budaya dari produk tersebut. Jadi suatu produk di samping memiliki sifat teknis juga akan selalu memiliki sifat atau aspek sosial budaya. Dengan kondisi semacam itu maka agar produk yang akan ditawarkan kepada konsumen haruslah dapat memberikan arti yang cocok bagi konsumennya itu yaitu baik arti teknis maupun arti nonteknis atau arti sosial budayanya. Dalam contoh obat generik tersebut di muka maka seringkali atau bahkan pada umumnya konsumen kalangan atas menjadi tidak tertarik untuk menggunakan obat generik tersebut karena akan kehilangan gengsi ataupun status sosialnya akan tampak menjadi rendah. Mereka (konsumen) akan lebih menyenangi obat yang memiliki merek tertentu dengan bungkus yang menarik serta dengan label yang lengkap.
Dengan kelengkapan atribut procluk semacam itu maka konsumen akan menjadi merasa lebih mantab dan yakin akan kemampuan produk tersebut serta tidak lepas pula unsur gengsi atau status sosialnya. Unsur yang kedua yang bersifat sosial budaya ini merupakan unsur yang berpangkal dari kebutuhan manusia sebagai makhluk sosial yang selalu memiliki kebutuhan-kebutuhan yang tidak hanya kebutuhan fisik atau teknis saja akan tetapi juga kebutuhan sosial yang lain seperti gengsi, status sosial, pertimbangan keamanan, kesehatan serta pertimbangan lingkungan dan sebagainya. Unsur ini sering dikenal sebagai aspek kebutuhan manusia atau kebutuhan pangkal atau "Generic Need".
Produk yang mampu memberikan arti terhadap kedua sifat tersebut akan mampu untuk menarik konsumen dan kemudian membuat konsumen tersebut terdorong untuk membelinya dan setelah membeli mereka akan dapat menjadi puas sehingga akan terjadilah pembelian yang berulang-ulang oleh konsumen terhadap produk tertentu itu. Dalam hal semacam ini maka produk tersebut akan dapat dikatakan sebagai produk yang mampu untuk menjual dirinya sendiri. Sebaliknya produk yang tidak mampu memberikan kedua arti itu akan sulit untuk dapat menarik perhatian konsumen apalagi mendorong untuk membelinya.

2. Siklus Kehidupan Produk (Product Life Cycle)
Setiap produk sebenamya akan memiliki siklus perputaran terhadap kehidupannya. Setiap produk itu sebenamya dapat kita ikuti perkembangan hidupnya seperti manusia saja, yaitu memiliki tahap-tahap anak-anak, kemudian tumbuh berkembang menjadi remaja kemudian menjadi dewasa lalu surut menjadi tua dan akhimya meninggal dunia.
Tahap yang paling awal dari masa hidupnya suatu produk dimulai dari suatu tahap yang disebut sebagai tahap Perkenalan atau Introduction. Pada masa ini produk tersebut baru diperkenalkan oleh pengusaha kepada masyarakat. Pada masa atau tahap perkenalan ini tentu saja akan berlangsung alot karena memang sukar untuk mempersoalkan suatu produk kepada masyarakat sehingga masyarakat banyak akan menjadi kenal akan produk tersebut. Seringkali produk tersebut diperkenalkan kepada masyarakat akan tetapi tidak banyak anggota masyarakat yang mengetahui akan kehadiran produk tersebut sehingga yang mengenalnya hanyalah sebagian kecil saja anggota masyarakat dalam hal ini berarti bahwa masa perkenalannya kurang efektif.
Efektivitas tahap ini tentu saja diukur dari banyaknya anggota masyarakat yang menjadi kenal akan produk tersebut. Apabila tahap ini tidak efektif maka tentu saja tahap-tahap berikutnya akan terhalang dan juga akan tidak efektif pula jadinya. Oleh karena itu maka tahap ini akan merupakan penentu atas keberhasilan tahap-tahap berikutnya.
Tahap berikutnya adalah tahap pertumbuhan, di mana pada tahap ini merupakan kelanjutan dari tahap perkenalan yang berhasil. Setelah banyak anggota masyarakat yang mengenal akan produk itu maka diharapkan masyarakat tersebut akan menjadi menyenangi produk tersebut dan apabila hal ini terjadi maka produk tersebut akan berada pada tahap pertumbuhan. Tahap ini ditandai oleh adanya jumlah penjualan yang meningkat terhadap produk tersebut. Itulah sebabnya lalu disebut sebagai tahap perkembangan atau tahap pertumbuhan atau growth. Tahap ini juga dinyatakan oleh adanya garis yang menanjak pesat dari grafik siklus kehidupan produk tersebut. Pada tahap sebelumnya yaitu tahap perkenalan maka jumlah penjualan tentu saja akan sangat sedikit bahkan seringkali justru agak menurun dan baru setelah masyarakat mulai mengenal maka akan sedikit demi sedikit menjadi meningkat.
Setelah masyarakat mengenalnya maka lalu timbul rasa keinginan masyarakat untuk memiliki produk tersebut dan dengan demikian maka penjualan akan menanjak dengan pesat. Tahap berikutnya lagi adalah menginjak pada tahap kedewasaan atau "Maturity". Tahap ini menunjukkan adanya masa kejenuhan di mana masyarakat atau konsumen sudah jenuh sehingga akan menjadi sukar untuk meningkatkan penjualan produk tersebut. Oleh karena itu maka pada tahap ini grafik penjualan pada siklus kehidupan produk itu tidak sepesat seperti sebelumnya.
Pertumbuhan pada saat ini menjadi sukar sehingga tak ubahnya seperti orang dewasa maka pertumbuhan fisiknya juga akan tidak sepesat seperti pada saat dia masih remaja. Pada masa dewasa ini tingkat perturribuhan menjadi, sangat kecil, masih berkembang akan tetapi sangat rendah dan tidak setinggi seperti pada tahap sebelumnya yaitu tahap pertumbuhan.
Tahap yang terakhir adalah tahap penurunan atau "Decline". Dalam tahap ini masyarakat sudah tidak lagi menyenangi produk tersebut sehingga penjualan akan segera merosot tajam. Hal ini akan terjadi apabila pengusaha tidak mampu lagi untuk mempertahankan produknya pada tahap kedewasaan. Karena pengusaha sudah tidak mampu lagi mempertahankannya tentu saja akan masuk pada tahap penurunan dan selanjutnya akan harus ditarik dan peredaran bisnis produk tersebut karena akan sudah tidak menguntungkan lagi memasarkan produk tersebut.
3. Jenis-jenis Produk
Agar kita dapat memasarkan produk kita dengan baik maka perlu kita mengetahui produk kita itu termasuk dalam jenis yang mana, karena masing-masing jenis produk akan memerlukan penanganan yang berbeda dalam memasarkan produk tersebut agar berhasil. Dalam hal ini kita mengenal ada beberapa penggolongan produk yaitu :
a. Barang Konsumen atau barang konsumsi
Barang konsumsi adalah barang yang dibeli oleh masyarakat untuk dipakai sendiri atau dikonsumsikan sendiri guna memenuhi kebutuhannya sehari-hari. Yang termasuk barang ini misalnya saja makanan, minuman, pakaian, perabot rumah tangga alat-alat tulis bahkan juga sepeda motor serta mobil dan sebagainya. Masyarakat membutuhkanbarang-barang tersebut untuk memenuhi kebutuhanya sendiri dalam kehidupannya sehari-hari. Pemasaran bagi produk semacam ini pada umumnya banyak mengandung aspek nonteknisnya atau banyak mengandung aspek sosial budaya atau generic need. Oleh karena itu maka pengusaha haruslah banyak memberikan kandungan sosial budaya terhadap strategi pemasarannya baik dalam produknya, harganya, distribusinya maupun promosinya. Hal ini terhadap karena dalam hal barang-barang semacam ini akan menyentuh kehidupannya sehari-hari yang tidak akan bisa lepas dari kehidupan tetangganya, serta anggota masyarakat yang lain yang menjadi pergaulannya.
Oleh karena itulah maka dalam jenis barang macam ini banyak unsur atau motif emosional (emotional motive) yang memainkan peranan dalam pembelian barang tersebut. Dalam pembelian barang jenis ini lebih banyak unsur emosional katimbang unsur rasionalnya. Meskipun unsur rasional tetap ada akan tetapi aspek emosional atau sosial budaya akan sangat banyak pengaruhnya dalam proses pengambilan keputusan untuk membeli dari para konsumen.
Barang konsumen atau barang konsumsi dapat dibedakan menjadi beberapa jenis yaitu :
- Barang Konvenien (Convenience Goods)
- Barang Shopping (Shopping Goods).
- Barang Spesial/Mewah (Specialty Goods).
Barang konvenien ini dapat dikatakan juga sebagai barang kebutuhan hidup sehari-hari misalnya saja makanan, minuman, bumbu masak, sayur-sayuran, buah-buahan dan sebagainya. Barang-barang ini akan dibutuhkan oleh masyarakat setiap hari untuk kehidupannya sehari-hari. Kebutuhan ini memiliki sifat yang berfrekuensi pembelian tinggi tetapi dalam jumlah yang kecil-kecil.
Oleh karena itu pemasaran haruslah menjangkau konsumen yang sedekat mungkin dengan mereka. Barang shopping dapat juga dikatakan sebagai barang perabot rumah tangga. Barang ini dibutuhkan oleh konsumen untuk kehidupan sehari-hari akan tetapi frekuensi pembeliannya jarang dengan jumlah pembelian atau pengeluaran yang cukup tinggi. Pada umumnya harga barang semacam ini juga tinggi pula. Karena sifatnya yang mahal itu maka konsumen pada umumnya selalu membanding-bandingkan harga antara produk yang satu dengan produk yang lain terlebih dahulu sebelum mereka memutuskan untuk membeli barang tersebut. Dari sifat yang selalu membandingkan antara produk yang satu dengan yang lain ini maka lalu disebut sebagai barang shopping atau shopping goods karena konsumen mesti harus pergi ke toko-toko dahulu atu shopping dahulu untuk membeli produk tersebut.
Barang Spesial atau barang mewah merupakan barang kebutuhan sehari-hari yang pada umumnya harganya mahal dan kebutuhannya tidak banyak jumlahnya serta frekuensi pembeliannyapun sangat kecil. Sebagai contoh dari jenis barang macam ini misalnya mobil video tape recorder. Video camera, antene parabola dan sebagainya. Barang-barang tersebut pada saat ini bagi masyarakat Indonesia khususnya Yogyakarta masih merupakan barang yang tergolong barang mewah. Penggolongan ini tentu saja dapat bergeser apabila penghasilan masyarakat menjadi berkembang. Hal ini dapat dijelaskan bahwa dahulu Pesawat Televisi merupakan barang mewah, akan tetapi pada saat ini televisi sudah bukan lagi merupakan barang mewah lagi akan tetapi sudah menjadi barang perabot rumah tangga atau barang shopping.
Oleh karena itu maka pada suatu saat nanti mungkin setelah terjadi perkembangan penghasilan masyarakat maka akan terjadi pergeseran terhadap penggolongan barang mewah itu. Seperti halnya yang terjadi pada saat ini di negara-negara yang sudah maju di mana penghasilan mereka cukup tinggi seperti Amerika Eropa dan Jepang maka barangbarang seperti mobil, video tape recorder ataupun camera video sudah bukan lagi merupakan barang mewah tetapi sudah menjadi barang kebutuhan perabot rumah tangga atau barang shopping.

b. Barang Industrial
Barang industrial adalah merupakan barang yang memiliki sifat yang berbeda dengan barang konsumsi. Barang iridustri dibutuhkan dan dibeli oleh konsumen tidak untuk memenuhi kebutuhannya sendiri untuk konsumsi sendiri, akan tetapi barang tersebut dibeli untuk dipergunakannya sebagai alat usaha atau alat berproduksi lagi ataupun dijualnya kembali dalam menjalankan usaha bisnisnya, baik bisnis yang bersifaf mencari keuntungan maupun yang bersifat nirlaba. Oleh karena sifat penggunaannya yang tidak untuk dikonsumsikan sendiri melainkan untuk diusahakan lagi dalam bisnis maka pada umumnya motif pembelian bagi jenis barang industrial ini tidak bersifat emosional akan tetapi lebih bersifat rasional atau atas dasar pertimbangan untung rugi atau pertimbangan biaya. Adapun barang yang termasuk jenis ini ada beberapa macam yaitu barang yang oleh pembelinya akan digunakan sebagai :
- Bahan Baku
- Bahan Pembantu.
- Peralatan Produksi.
- Mesin-mesin Pabrik.
- Peralatan Administrasi Kantor dan sebagainya.

STRATEGI HARGA
Pengusaha perlu memikirkan tentang penetapan harga jual produknya secara tepat karena harga yang tidak tepat akan berakibat tidak menarik para pembeli untuk membeli barang tersebut. Penetapan harga jual barang yang tepat tidak selalu berarti bahwa harga haruslah ditetapkan rendah atau serendah mungkin. Sering kita jumpai bahwa apabila harga barang tertentu itu rendah maka banyak konsumen justru tidak senang karena dengan harga yang murah itu maka semua orang akan dapat membelinya dan dengan demikian berarti semua orang dapat memakai barang tersebut. Kondisi ini banyak di antara ibu rumah tangga khususnya kaum wanita karier tidak menyenangi kondisi tersebut di atas. Mereka lebih senang bahwa barang yang dipakainya tidak banyak orang yang menggunakannya dan hal ini berarti barang tersebut haruslah dengan harga yang cukup tinggi.
Dengan harga yang tinggi maka tentu saja hanya orang-orang tertentu saja yang mampu untuk membeli barang tersebut. Oleh karena itu maka penentuan harga jual haruslah dipikirkan baik-baik dan dalam hal ini terdapat beberapa dasar penetapan harga yaitu :
- Biaya.
- Konsumen.
- Persaingan.
Biaya produksi yang telah dikeluarkan untuk menghasilkan barang tersebut tentu saja akan menjadi pertimbangan utama bagi pengusaha dalam menentukan harga jual produknya itu. Harga jual yang ditetapkan di bawah biaya produksinya tentu saja akan mendatangkan kerugian bagi perusahaan. Sebaliknya harga jual yang ditetapkan di atas biaya produksinya tentulah akan menghasilkan keuntungan. Oleh karena itu pada umummya pengusaha menggunakan dasar penetapan harga jual produknya adalah dasar biaya produksinya dan kemudian ditambah dengan margin keuntungan yang diinginkannya. Cara penetapan harga yang mendasarkan diri pada biaya produksi dengan menambahkan persentase tertentu keuntungan yang diinginkan ini sering disebut “Cost-Plus Pricing” atau juga dikenal sebagai “Mark-Up Pricing”. Cara penetapan yang tradisonal ini banyak dpergunakan oleh para pengusaha meskipun cara ini tidaklah menjamin daya tarik yang tinggi bagi konsumen untuk membeli produk yang ditawarkan kepadanya. Dalam hal tertentu cara penetapan harga ini kurang berhasil yang disebabkan karena mungkin cara penetapan tidak sesuai dengan selera dan keinginan konsumen. Mungkin konsumen tidak senang harga jual rendah meskipun biaya produksinya sebenarnya rendah. Sebaliknya dalam kondisi tertentu dimana konsumen masih perlu diperkenalkaan dahuludengan produk tersebut maka meskipun biayanya tinggi perlu diberlakukan harga jual yang rendah. Dengan demikian maka perlu penetapan harga jual atas dasar yang lain yaitu atas dasar kondisi selera konsumen atau permintaan konsumen. Apabila selera atau permintaan konsumen menghendaki rendah sebaiknya harga jual juga harus ditetapkan rendah dan sebaliknya apabila konsumen menghendaki harga jual tinggi maka sebaiknya juga haruslah ditetapkan harga jual tinggi pula.
Penetapan harga seperti diatas itulah yang merupakan penetapan harga atas dasar selera atau permintaan konsumen. Dengan menetapkan harga tertentu maka akan terbentuklah citraatau image tertentu dari konsumen kepada perusahaan. Penetapan harga yang tinggi akan membentuk suatu image bahwa barang tersebut adalah barang yang bagus dengan kualitas tinggi serta merupakan barang yang biasa dipergunakan oleh masyarakat kalangan atas. Sebaliknya barang dengan menetapkan harga jual yang rendah juga akantercipta image dan produk tersebut akan dikenal sebagai barang yang murahharganya atau barang murah.. Strategi ini dikenal sebagai strategi barang murah, sebagai kebalikan dari strategi barang mewah.

STRATEGI PROMOSI
Promosi adalah merupakan kegiatan yang dtujukan untuk mempengaruh konsumen agar mereka dapat menjadi kenal akan produk yang ditawarkan oleh perusahaan kepada mereka dan kemudian mereka menjadi senang lalu membeli produk tersebut.
Alat yang dapat dipergunakan untuk mempromosikan produknya pengusaha dapat memilih beberapa cara yaitu :
- advertensi, merupakan alat utama bagi pengusaha untuk mempengaruh konsumennya. Advertensi ini dapat dilakukan oleh pengusaha lewat surat kabar, radio, televisi, majalah, bioskop ataupun dalam bentuk poster yang dpasang di pinggir jalan atau tempat yang strategis.
- promosi penjualan (sales promotion), adalah merupakan kegiatan perusahaan untuk menjajakan produk yang dipasarkannya sedemikian rupa sehingga konsumen akan mudah untuk melihatnya dan bahkan dengan cara penempatan dan pengaturan tertentu maka produk tersebut akan menarik perhatian konsumen.
- personal selling, merupakan kegiatan perusahaan untuk melakukan kontak langsung dengan para calon konsumennya, yang dharapkan akan terjadi hubungan atau nteraksi yang positif antara pengusaha dengan para calon konsumen.
- publisitas (Publication), merupakan cara yang biasa digunakan juga oleh pengusaha untuk membentuk pengaruh secara tidak langsung kepada konsumen agar mereka menjadi tahu dan menyenangi produk yang dipasarkan, dengan cara memuat berita tentang produk atau perusahaan yang menghasilkan produk tersebut di mass media misalnya surat kabar, berita diradio, majalah atau televisi.
STRATEGI SALURAN DISTRIBUSI
Perysahaan harus menyebarkan barangnya ke tempat konsumen itu berada. Hal ini merupakan tugas untuk mendistribusikan barang kepada konsumen. Untuk keperluan tersebut pengusaha dapatmenggunakan berbagai bentuk saluran distribusi yang mungkin dilakukannya adapun bentuk – bentuk saluran distribusi yang ada dapat dibedakan menjadi beberapa macam yaitu :
a. Saluran distribusi langsung
Dalam saluran distribusi ini pengusaha berusaha untuk menyalurkan barang-barangnya yang dibeli oleh konsumen secara langsung ke tempat konsumen itu tinggal. Dengan demikian maka diharapkan konsumen akan merasa puas karena konsumen tidak perlu lagi memikirkan masalah pengangkutan barang yang dibelinya itu kerumah. Di samping masalah transportasi barangnya konsumen juga akan mendapatkan keuntungan secara langsung yaitu konsumen akan dapat mengecek keutuhan barang yang mereka beli secara langsung di rumah.
Di pihak lain pengusaha juga memperoleh keuntungan dengan adanya kontak langsung karena mereka akan dapat mengetahui lebih akrab lagi dengan konsumen mereka. Dengan keakraban tersebut pengusaha akan dapat mengetahui gaya hidup, perkiraan penghasilan, status social dan sebagainya dari konsumen mereka. Dengan diketahui informasi tersebut pengusaha akan dapat mengetahui jenis-jenis kebutuhan yang lain dari konsumen mereka.
b. Saluran distribusi tidak langsung
Cara penyaluran secara tidak langsung ini pada umumnya dilakukan oleh pengusaha pengusaha penyaluran langsung akan memakan biaya yang sangat mahal. Hal ini disebabkan karena barang konsumsi menjangkau lokasi pasar yang sangat luas dan menyebar ke penjuru daerah. Dalam hal penyaluran barang secara tidak langsung ini pengusaha dapat melakukan beberapa pilihan lagi yang meliputi tiga cara penyaluran barang tidak langsung, yaitu :
- Saluran distribusi yang eksklusif, berarti pengusaha hanya menggunakan penyaluran atau distributor yang sedikit jumlahnya yang mereka pilih atas dasar syarat-syarat tertentu.
- Saluran distribusi yang selektif, merupakan penyaluran yang biasnya hanya menggunakan satu distributor tunggal yang ditunjuk oleh perusahaan untuk keperluan penyaluran barangnya.
- Saluran distribusi yang intensif, merupakan cara penyaluran dengan menggunakan penyaluran yang sebanyak-banyaknya agar dapat menjangkau lokasi konsumen yang menyebar.








BAB IV PONTESI BISNIS DAN KEWIRAUSAHAAN

BAB 4
PONTESI BISNIS DAN KEWIRAUSAHAAN

A. IDENTIFIKASI PONTENSI BISNIS

Pengusaha haruslah mengenal potensi bisnisnya dengan baik agar dapat memenuhi dan melayaninya dan kemudian menguasainya. Pengusaha yang tidak mengenal dengan baik potensi bisnisnya dapat diumpamakan sebuah kapal ditangah samudra tanpa kompas serta menghadapi udara mendung sehingga tidak dapat melihat bintang – bintang di langit. Dia akan berlayar tanpa arah dan akan terbawa kemana angin bertiup. Dengan mengenal potensi bisnisnya maka kita akan tahu kemana kita harus menuju sehingga apabila arah angin sesuai dengan arah tujuan maka kita dapat memacu keceptan, sedangkan apabila tidak maka kita harus mampu untuk merubah jalannya kapal meskipun kita harus menentang angin. Oleh karena itu langkah awal dalam menjalankan bisnis adalah kita harus melakukan analisa terhadap potensi bisnis yang sering juga disebut analisa pasar. Dalam hal ini kita haruslah melakukan identifikasi terhadap pasar yang akan kita layani. Apa yang merupakan pasar tau potensi bisnis kita itu, danseberapa luas potensi tersebut serta bagaimana perkembangannya dikemudian hari.
Sebuah pertanyan yang merupakan penuntun dari proses kegiatan analisa pasar atau analisa potensi bisnis ini sering diungkapkan dalam sebuah kalimat “ What Business are We In?” Yang dimaqksud dalam ungkapan ini adalah ingin mengetahui tentang kita ini bergerak dalam bisnis apa. Kita dapat bergerak dalam bisnis mobil, bisnis mebel, bisnis jasa konstruksi bangunan, bisnis percetakan dan penerbitan, bisnis komputer dan sebagainya.
Masing – masing jenis bisnis mempunyai kondisi luas pasar atau potensi yang berbeda – beda karena konsumen bagi masing – masing bisnis tentu saja berbeda. Bisnis mobil misalnya pasarnya tentu saja orang – orang yang sudah mempunyai pekerjaan dan penghasilan, sedangkan bisnis penerbitan buku tentu saja konsumennya adalah para pelajar dan mahasiswa yang blu bekerja dan belum berpenghasilan. Masing – masing akan memiliki karakteristik sendiri yang berbeda antara satu dengan yang lain. Dengan mengetahui karekteristik pasar atau konsumen bagi bisnisnya masing – masing. Maka kita akan dapat memperoleh pentunjuk tentang bagaimana kita harus melayaninya dengan sebaik – baiknya. Bisnismen yang dapat melayani pasar atau konsumennya secara lebih baik akan dapat memperoleh posisi yang baik dalam percaturan bisnis itu. Sebaliknya jika yidak dapat melayaninya secara baik tentu akan kalah dalam persaingan.
Dipihak lain dari segi penjual/pengusaha, analisa pasar merupakan upaya untuk menentukan siapa yang menjadi jonsumennya dan seberapa besar permintaan terhadap suatu produk yang ditawarkannya ataupun yang dapat ditawarkannya. Identifikasi macam ini akan berpangkal pada kebutuhan dari orang atau organisasi yang menjadi konsumen perusahaan itu. Kebutuhan tersebut akan bervariasi dan beraneka ragam. Ada kebutuhan akan mobil yang mewah, besar dan angun. Adapula yang memebutuhkan mobil sedan yang mewah tapi mungil dan sporty. Dalam hal kebutuhan masyarakat beraspun terdapat perbedaan. Ada yang menginginkan beras yang murah dan babar meski rasanya kurang enak , adapula yang menghendaki beras “Rojo lele atau Cianjur” yang enak rasanya meskipun mahal harganya. Oleh karena itulah maka Toyota menghasilkan bermacam – macam jenis mobil sedan type Corona, Corell, Starlet, Kijang, Jeep dan sebagainya. Daihatsu mengeluarkan mobil – mobil type Charman, Charade, Taft, Hijet, dan sebagainya. Kedua titik pandang tersebut
Proses Analisa Pasar













Analisa pasar ini dilakukan oleh semua orang maupun perusahaan baik besar maupun kecil yang akan berada dalam hal tingkat kerumitannya, akan tetapi semuanya melalui proses yang sama. Dari adanya analisa pasar tersebut yang dilakukan oleh pembeli maupun penjualan itu maka akan terjadilah peluang akan terjadinya transaksi jual beli yang dimulai dengan serta hubungan diantara mereka, sehingga terjadilah proses komunikasi dari keduanya.


PENGERTIAN PASAR

Dari segi ilmu ekonomi, pasar dipandang sebagai interaksi antara konsumen dan produsen..Interaksi ini adalah sebagai cerminan dari proses analisis pasar yang dilakukan oleh kedua belah pihak tersebut diatas. Dari proses interaksi itu maka timbulah hubungan antara permintaaan dan penawaraan serta harga pasar yang berlaku dan harga pasar yang terjadi itu disebut harga quilibrium. Dari interaksi antara permintaan dan penawaran itu akan menentukan luas dan sempitnya pasar (potensi pasar atau potensi bisnis) serta harga pasar yang berlaku.
Jumlah permintaan akan sangat tergantung dari tinggi rendahnya harga pasar yang berlaku. Apabila harga yang berlaku itu rendah maka tentu saja jumlah yang diminta oleh masyarakat akan lebiah banyak, karena dengan harga yang lebih rendah tentulah akan lebih banyak orang yang dapat menjagkau harga tersebut. Sebaliknya apabila harga dinaikan maka akan berakibat hanya sedikit masyarakat yang mapu untuk menjangkaunya. Oleh karena itulah maka garis kurva permintaan akan terlihat sebagai garis yang menurun, sebagai gambaran bahwa semakin rendah harga yang berlaku maka jumlah permintaan akan bertambah banyak.
Di pihak lain kurva penawaran akan menunjukan kondisi jumlah barang yang ditawarkan atau dijual oleh para pengusaha. Apabila harga yang berlaku di pasr turun maka para pengusaha akan kurang tertarik untuk menawarkan barangnya, sebaliknya tentu saja apabila harga itu naik maka pengusaha akan tertarik untuk lebih banyak menawarkan barangnya ke pasar. Oleh karena itu kurva penawaran merupakam garis yang menanjak yang menggambarkan keadaan bahwa semakin tinggi harga pasar yang berlaku akan mengakibatkan semakin banyaknya jumlah barang yang ditawarkan di pasar oleh para pengusaha.
Ditinjau dari segi bisnis maka pengertian pasar tersebut telah dipertajam lagi yaitu pasar merupaka sekumpulan orang atau organisasi yang mempunyai kebutuhan dan keinginan yang mungkin sebagian dapat dipenuhi lewat transaksi jual beli (William G. Nickels.p. 76).
Kedua tinjauan tersebut mempunyai beberapa aspek yang sama yaitu:
a. Pasar terdiri dari sekkumpulan orang atau organisasi yang mempunyai kebutuhan yang berbeda-beda.
b. Orang-orang tersebut mempunyai kemampuan intuk berpartisipasi dalam melakukan transaksi jual beli sabagai penjual ataupun sebagai pembeli.
Dalam tinjauan bisnis ini di samping ditinjau mengenai kedua hal tersebut dapat diidentifikasi pula tentang pasar apa yang akandilayani, di mana pasar itu berada, seberapa luas pasar tersebut dan kemudian bagaimana sifat-sifat serta karakteristiknya. Karakteristik pasar ini berupa kesenangannya, kebiasaannya, tradisinya, gaya hidupnya, budaya serta tujuan dalam pemenuhan kebutuhannya. Oleh karena itu maka analisa atau identifikasi pasar harus mampu untuk mendapatkan gambaran tentang apa, di mana, seberapa luas serta bagaimana sifat-sifat atau karakteristik dari pasar itu. Jadi pengusaha harus mampu untuk mengukur besarnya potensi pasar terhadap produk yang ditawarkannya dan kemudian memperhitungkan apakah potensi pasar tersebut cukup luas untuk dilayaninya secara menguntungkan (ekonomis) atau tidak.

TUJUAN IDENTIFIKASI PASAR
Dari uraian di muka dapat kita ketahui bahwa identifikasi pasar mempunyai beberapa tujuan yaitu:
1. Menentukan pasar apa yang sedang atau akan dilayaninya. Hal ini dapat diidentifikasikan lewat penentuan tentang kebutuhan apa (need) yang dilayaninya. Hal ini menyangkut pulla tentang sipa atau orang/organisasi yang mana yang dilayaninya. Hasil dari proses ini berupa misalnya bisnis/pasar mobil baru, mobil bekas, onderdil mobil, sepeda motor, barang komsumsi. Barang industri dan yang dilayani bisa perorangan, pemerintah, mayarakat baik domestik maupun masyarakat luar negeri dan sebagainya.
2. Menentukan di mana lokasi tempat tinggal dari orang/organisasi yang membutuhkan produk yang dipasarkan. Misalnya di Jawa, luar jawa, Kota, Pinggiran Kota, Desa dan sebagainya.
3. Seberapa luas jumlah potensi pasar serta estimasi pasar dapat dilayaninya. Hal ini perlu untuk menganalisa apakah pasar tersebut cukup luas dan ekonomis untuk dilayaninya.
4. Menetukan sifat-sifat dan karakteristik dari pasar tersebut. Hal ini menyangkut analisa tentang selera, kesenangan, kebiasaan, sikap, perilaku, gaya hidup maupun kebudayyan yang dimiliki oleh konsumennya.
Tujuan pertama, kedua dan ketiga akan menghasilkan gabaran tentang potensi serta estimasi luar pasar yang dapat dikuasainya. Sedangkan tujuan keempat menggambarkan sifat-sifat pasar, pengelompokan/segmentasi pasar serta target pasar yang akan menjadi sasaran yang dilayaninya.

SIFAT – SIFAT PASAR
Untuk memperoleh gambaran tentang sifat-sifat pasar maka dapatlah kita pikirkan bahwa pasar pada hakikatnya adalah orang-orang. Kita tahu bahwa orang adalah sangat beraneka ragam sifat-sifatnya sehingga dapat dikatakan bahwa di dunia ini tidak ada satu pun manusia ini yang sama, sekalipun dia itu kembar. Di samping keanekaragaman tersebut kita dapat mengkelompok-kelompokkan manusia menurut sifat-sifatnya atau ciri-cirinya yangsama yang dimiliki oleh kelompok tertentu yang berbeda dengan sifat/ciri – ciri dari kelompok manusia yang lain. Misalnya kita dapat mengelompokan menurut bentuk tubuh mereka. Ada yang berbentuk tubuh tinggi semampai, yang biasanya memiliki sifat-sifat perasa. Artistik atau melankolis. Ada pula kelompok manusia yang bertubuh gemuk pendek, yang biasanya mereka itu memiliki sifat-sifat terbuka, senang bergaul, serta humoris. Apalagi yang bertubuh atletis yang pada umumnya memiliki sifat disiplin, senang olah raga dan ulet. Kita dapat pula membedakan manusia itu dengan cara pembedaan yang lain sehingga dapat diketahui bahwa ada kelompok manusia yang senang mobil besar mewah, ada pula yang senang mobil mewah tapi kecil dan bahkan ada yang menyenangi mobil yang super mewah dan sebagainya. Jadi pasar adalah sangat heterogen atau beraneka ragam. Akan tetapi meskipun heterogen kita dapat membeda-bedakannya ke dalam kelompok-kelompok yang memiliki sifat-siafat yang sama seperti contoh tersebut diatas. Usaha untuk mengelompok-kelompokkan pasar yang heterogen itu disebut”segmentas pasar”. Masing-masing kelompok yang homogen itu disebut segmen pasar tertentu atau sering pula disebut sel pasar (market cell).
Dengan segmentasi pasar itu maka pengusaha akan dapat melihat sifat-sifat dari masing-masing kelompok/segmen/sel pasar tertentu itu yang berbeda dengan segmen/sel pasar yang lain, meskipun masih dalam satu cabang industri atau satu jenis produk tertentu (misalnya dalam contoh dimuka, mobil sedan).
Pengusaha dapat mengkonsentrasikan diri pada salah satu segmen pasar tertentu saja dan kemudian melayaninya secara sempurna atau lebih sempurna dari pada pesaingpesaingnya. Dengan demikian maka dia akan memperoleh citra/nama baik atau yang disebut “patronage motive” dari konsumennya sehingga dia akan dapat menduduki posisi persaingan yang lebih baik (competitive advantage). Pengusaha macam ini merupakan pengusaha yang menentukan target pasarnya atau yang disebut “target marketing”.

POTENSI PASAR
Menurut pandangan Ilmu Ekonomi. Pasar diidentifikasikan sebagai permintaan, yaitu jumlah produk yang dapat diserap oleh konsumen dari produk yang di tawarkan pada tingkat harga tertentu. Dalam hal ini konsumen berperan besar dalam menentukan jumlah produk atau penawaran melaui pengeluaran yang mereka lakukan terhadap produk itu. Hal ini tercemin dalam pengaruh harga terhadap jumlah penawaran serta pemintaannya. Di lain pihak, dari sudut pandang bisnis (pemasaran), pasar adalah tidak hanya merupakan interaksi antara penawaran dengan permintaan saja tetapi merupakan orang-orang atau organisasi yang membutuhkan produk itu dan selanjutnya menyangkut siapa orang atau organisasi yang membutuhkan produk tersebut beserta bagaimana sifat-sifat mereka. Sifat-sifat tersebut kemudian dapat didorong atau distimulir unutk membeli barang/jasa yang ditawarkannya itu. Jadi bisnisman dalam hal ini lebih menitik beratkan pada potensi pasar atau potensi bisnis dari pada konsumen pada saat ini saja beserta sifat-sifat yang dimiliki oleh potensi pasar tersebut. Dalam hal ini pasar atau potensi pasar merupakan fungsi dari struktur penduduk (Population Patern), kemampuan membeli (Purchasing Power) dan Pola kKonsumsi (Consumtion Patern).
Struktur penduduk meliputi orang-orang atau organisasi yang melakukan pembelian untuk memenuhi kebutuhannya yang dapat dipisah-pisahkan menurut jenisnya (kelompok umur, jenis kelamin, macam pekerjaan, penghasilan dan sebagainya) serta lokasi atau daerah geografisnya (Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa dan sebagainya)
Kemampuan Membeli merupakan cerminan dari besarnya pengahasilan yang dimiliki oleh seseorang serta kemampuan untuk mendapatkan kredit dari bank, misalnya penggunaan “Visa Card”, “Master Card” dan kartu-kartu kredit yang lain.
Pola Konsumsi merupakan cerminan dari perilaku konsumen terhadap pengeluaran yang dilakukannya. Pola konsumsi ini sangat dipengaruhi oleh gaya hidup (Life, Style), sikap hidup, faktor-faktor psikologis, sosiologi maupun kebudayan (culture) yang dimiliki oleh masyarakat setempat.
Analisa pasar haruslah mengidentifisir kekuatan-kekuatan khusus dari ketiga faktor tersebut di atas yang akan berlangsung pada setiap kondisi pasar. Potensi pasar ini diperhitungkan dengan menggunakan formulasi sebagai berikut :



Keterangan :
M = Potensi pasar
N = Jumlah penduduk yang memeliki kebutuhan akan prodak tertentu
U = Jumlah kebutuhan per orang
P = Harga rata – rata per unit produk

POTENSI PENJUALAN
Potensi pasar tersebut merupakan permintaan produk dalam satu cabang indrustri tertentu. Potensi pasar ini akan dilayani oleh beberapa dan bahkan jarang dilayani pula oleh banyak perusahan. Oleh karena itu potensi penjualan bagi masing – masing perusahaan dapat diperhitungkan dengan cara :
P = M . S
Keterangan :
P = Potensi Penjualan
M = Potensi pasar
S = Market Share

PENGUASAN PASAR

Segmentasi pasar adalah penelahaan terhadap sifat – sifat. Oleh karena itu segmentasi pasar merupakan usaha untuk mengelompokan pasar dari pasar yang bersifat heterogen kedalam bagian – bagian pasar yang memiliki sifat yang homogen.
Agar segmentasi pasar dapat efektif maka ada beberapa syarat dalam melakukan segmentasi yaitu :
1. Tingkat kesamaan (kepekatan) yang relatif tinggi diantara sesama segemen sehingga akan memeberikan kemungkinan yang tinggi bahwa reaksinya akan sama terhadap perlakukan yang sama. Contoh : pencari status.
2. Tingkatkan kelainan yang ralatif tinggi dengan segmen yang lain.
3. Jumlahnya harus cukup bearti.
4. Haruslah bersifat operasional.

TIGA JENIS STRATEGI PEMASARAN

Setelah diketahui bahwa pasar yang dihadapi dapat dibagi – bagi kedalam beberapa bagian/segmen, maka pengusaha dapat memilih beberapa strategi yang mungkin dilakukan terhadap keadaan tersebut.
Pada dasarnya ada 3 strategi yaitu :

1. Strategi satu sasaran (single target)
Sasaran atau terget untuk dilayani dengan marketing nixnya yang disebut dengan Concentrated Marketing.
2. Strategi sasaran ganda (multy targets)
Pengsaha melakukan strategi yang berbeda terhadapat segmen yang berbeda yang disebut dengan diferentiated marketing.
3. Strategi kombinasi sasaran (combine targets)
Dalam hal ini pengusaha mengkombinasikan atau menyatukan beberapa segmen menjadi satu segmen pasar yang luas. Masing – masing strategi memiliki kebaikan dan keburukan sendiri. Strategi yang dipilih tergantung dari 2 hal yaitu :
1. Jangkauan sarana produksi yang dimiliki perusahaan
2. Tingkat kesamaan dari masing – masing segmen pasar
DASAR SEGMENTASI PASAR
Pentingnya penentuan sasaran pasar menuntut untuk dilakukannya segmentasi pasar dengan suatu dasar segmentasi yang tepat dan berguna bagi perencanaan strategis pemasarannya. Dasar segmentasi yang tidak tepat akan memberikan jaminan keberhasilan strategi pemasarannya. Konsumen memiliki beebagai dimensi yang dapat dipakai sebagai dasar segmentasi pasar. Adapun dimensi pasar yang dipakai sebagai dasar segmentasi pasar sebagai berikut :
1. Geografis
2. Demografis
3. gaya hidup
4. Status sosial
5. Manfaat yang didambakan
6. Pola konsumsi

SASARAN PASAR
Agar dapt lebih berarti maka pasar haruslah diartikan lebih sempit lagi sehingga dapat dilihat adanya sasaran pasar. Hal ini dapat dilakukan dengan cara segmentasi pasar seperti yang telah diuraikan dimuka.
Pengusaha dapat melaksanakan kegiatan yang sesuai dengan faktor yang dimiliki oleh saran pasar tersebut sehingga dapat mendorong mereka untuk membeli produknya. Tanpa mengenal faktor tersebut diatas maka tindakan yang dilakukan tidak menjamin timbulnya dorongan bagi para konsumen untuk membeli produk kita, faktor ini disebut dengan faktor penetu pembelian.
Faktor – faktor tersebut dapat digolongkan menjadi :
1. Faktor pribadi (intern)
2. Faktor kelompok
3. Faktor lingkungan sosial
4. Faktor budaya
Pengusaha yang belum membedakan pasar, pada umumnya disebabkan karena 2 hal yaitu :
1. Dasar orientasinya masih pada orientasi produk
2. Pengusaha sebenarnya tahu akan adanya perbedaan pasar tersebut akan tetapi karena terbatasnya sarana yang dimilkinya maka dia belum memperlakukan pelayanan yang berbeda terhadap pasar yang berbeda.








BAB III BENTUK – BENTUK BADAN USAHA

BAB 3
BENTUK – BENTUK BADAN USAHA

Usaha bisnis dapat dilaksanakan dalam berbagai bentuk. Di Indonesia kita mengenal 3 macam bentuk baan yaitu :

1. Badan Usaha Milik Negara (BUMN)
2. Koperasi
3. Swasta

Pembagian atas tiga bentuk Badan Usaha tersebut bersumber dari Undang – Undang 1945 khususnya pasal 33. Dalam pasal tersebut terutang adanya Konsep Demokrasi Ekonomi bagi perekonomian Negara. Di mana dalam Konsep Demokrasi Ekonomi ini terdapat adanya kebebasan berusaha bagi seluruh warga negaranya dengan batas – batas tertentu. Hal ini berati bahwa segenap warga negara Republik Indonesia diberikan kebebasan dalam menjalankan untuk kegiatan bisnisnya. Hanya saja kebebasan itu tidaklah tak ada batasnya, akan tetapi kebebasan tersebut ada batasanya.
Adapun batas – batas tertentu itu meliputi dua macam jenis usaha, dimana tehadap kedua jenis usaha ini pihak swasta dibatasi gerak usahanya. Ke dua jenis usaha itu adalah :
a. Jenis – jenis usaha yang VITAL yaitu usaha – usaha yang memiliki peranan yang sangat penting bagi perekonomian negara. Misalnya saja : minyak dan gas bumi, baja, hasil pertambngan, dan sebgainya.
b. Jenis – jenis usaha yang menguasai hajat hidup orang banyak. Misalnya saja : usaha perlistrikan, air minum. Kereta api, pos dan telekomunikasi dan sebagainya.
Terhadap kedua jenis usaha tersebut pengusahaannya dibatasi yaitu bahwa usaha – usaha ini hanya boleh dikelola Negara.


1. BADAN USAHA MILIK NEGARA ( BUMN )

BUMN adalah suatu bangun usaha yang didirikan oleh Negara dan pemiliknya dipegang oleh Pemerintah atau Negara Republik Indonesia. Dalam hal ini terdapat berbgai macam antara lain yang berupa Perusahaan Jawatan ( PERJAN ), Perusahan Negara ( PN ), Perusahaan Umum ( PERUM ) dan Persero ( PT. Persero )
Bentuk Perum ini merupakan perusahan yang menjadi milik dan dikelola oleh suatu Departemen Pemerintah. Sebagai contoh adalah Perum Perhutani yang bergerak dibidang kehutanan dan perkayaan yang menjadi milik dan dikelola oleh Departemen Kehutanan RI. Selain bentuk Perum masih terdapat bentuk lain yaitu
Perusahaan Jawatan yaitu yang pemilikannya dipegang oleh suatu Jawatan tertentu dibawah suatu Departemen. Sebagai misal adalah Perusahaan Jawatan Kereta Api ( PERJANKA atau PJKA ) yang saat ini sudah diganti menjadi bentuk Perumka. Bentuk yang lain lagi adalah yang berupa Perusahaan Negara ( PN ), sebagai contoh adalah Perusahaan Negara Perkebunan atau PNP. Bentuk ini kemudian diganti namanya menjadi Perseroan Terbatas ( PT ). Persero karena pemilikan dari usaha ini oleh negara diwujudkan dalam bentuk Saham atau Sero dari yang bertindak sebagai saham atau perseronyaadalah Menteriyang bersangkutan. Sebagai contohnya adalah PT. Persero Perkebunan yang pada umunya dikenal sebagi singkatan PTP ( Perseroan Terbatas Perkebunan ) atau PNP XIX misalnya adalah Perusahaan Negara Perkebunan di Surakarta yang bergerak dibidang perkebunan tembakau. Disamping bentuk BUMN yang merupakan perusahan milik Pemda ini dikenal dengan sebutan Perusahaan Daerah atau disingkat PD. Sebagai contoh di Yogyakarta terdapat PD. Purosani yang bergerak dibidang Pariwisata, PD
Pertambangan Mangan dibidang pertambangan, pada saat ini sudah digabungkan menjadi satu yaitu PD. ANINDYA ( Aneka Industri dan Jasa ). Di usaha cerutu dan tembakau sigaret atau tembakau shag. Perubahan bentuk hukum dari perusahaan milik negara tersebut telah terjadi pada berbagai jenis badan milik negara. Perubahan tersebut dimaksudkan untuk memberikan ruang gerak bisnis yang lebih longgar kepada badan usaha yang bersangkutan.Ruang gerak yang lebih longgar berada pada bentuk perum dan yang paling luas adalah bentuk persero.Sedangkan bentuk PN dan Perjan merupakan bentuk yang paling tidak longgar dimana dalam bentuk ini segala kebijakan bisnis dari perusahaan itu berada sepenuhnya ditangan Pemerintah cq Kepala Jawatan yang bersangkutan.
Adapun ciri-ciri bentuk usaha BUMN ini adalah sebagai berikut:
· Modalnya disetor oleh Pemerintah melalui Anggaran Penerimaan dan Belanja Negara/Daerah/APBD) yang disalurkan melalui Bank Pemerintah Pusat atau Daerah(BPD)
· Seluruh modalnya adalah merupakan milik negara
· Bertujuan untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat dan menciptakan kemakmuran rakyat.
Keberhasilan BUMN ini diukur menggunakan tolok ukur banyaknya jumlah masyarakat yang memperoleh pelayanan dengan harga yang wajar.
Bentuk BUMN Indonesia jika digolongkan berdasarkan pentingnya cabang usaha yang dijalankan,dapat dibagi menjadi dua golongan yaitu:
1. BUMN untuk cabang usaha yang VITAL .
2. BUMN untuk cabang usaha yang menguasai hajat hidup orang banyak.

BUMN yang bergerak dalam cabang usaha yang vital ini berusaha untuk mengelola bidang – bidang usaha pengolahan sumber – sumber alam yang terpendam di dalam perut bumi atau dipermukaan bumi serta yang ada di dalam air maupun udara. Sebagai contoh bentuk badan usaha ini adalah :
§ Perum –Perum Pertambangan
§ Perusahaan Listrik Negara ( PLN )
§ Perum Jasa Marga yang bergerak di bidang pembangunan prasana jalan, jembatan, lapangan terbang maupun pelabuhan.
§ Perum Pos, Giro dan Telekomunikasi
§ Perum Peruri ( Percetakan Uang Republik Indonesia ) yang bergerak dalam bidang pencetakan uang yang diedarkan di Indonesia.
§ PT. Persero Pindad ( Perusahaan Industri Angkatan Darat ) yang begerak dalam bidang produksi alat –alat persenjataan untuk keperluan Angkatan Darat dan ABRI.

BUMN yang bergerak dalam cabang usaha yang menguasai hajat hidup orang banyak adalah badan usaha yang mengelola sumber – sumber daya yang ditunjukan bagi kehidupan dan kesejahteraan rakyat banyak. Apabila cabang usaha tersebut diserahkan kepada swasta maka dikhawatirkan akan tidak ditunjukan untuk kesejahteraan rakyat akan tetapi untuk mengejar keuntungan bisnis semata – mata. Yang termasuk dalam golongan ini adalah :
§ Perum Damri
§ Perum KA
§ Perum Pelni
§ Perum Pegadaian
§ Perum Balai Pustaka
§ PT. Persero Aneka Gasw dll
Adapun BUMN yang ada di Indonesia pada saat ini berjumlah 189 buah yang bernaung di bawah beberapa Departemen dan ada pula yang tidak bernaung pada Departemen tertentu. Masing-masing BUMN mengalami perkembangan yang berbeda-beda sehingga mengakibatkan kondisi yang berbeda pula. Ada BUMN yang memiliki kondisi kesehatan yang mengkhawatirkan dan ada pula yang berbeda dalam kondisi yang menggemburakan. Kondisi yang menggembirakan tercermin dalam suatu kondisi yang sering disebut sebagai kondisi kesehatan usaha yang sangat sehat, sedangkan kondisi yang mengkhawatirkan disebut sebagai kondisi kesehatan yang tidak sehat. Dalam hal penilaian kesehatan usaha BUMN ini terdapat suatu pedoman penilaian yang menggolongkan tingkat kesehatan usahanya kedalam 4 kategori yaitu :
§ Sehat sekali (SS)
§ Sehat (S)
§ Kurang Sehat (KS)
§ Tidak Sehat (TS)

Pedoman penilaian atas kesehatan usaha bagi BUMN ini tertuang dalam suatu Surat Keputusan Mentri Republik Indonesia Nomor : 740/KMK.00/1989 tertanggal 28 Juni 1989 yang merupakanpenjabaran lebih lanjut dari Instruksi Presiden Nomor 5 Tahun 1988 tentang Pedoman Badan Usaha Milik Negara. Penilaian tingkat kesehatan usaha bagi BUMN tersebut secara ringkas dapat dilihat seperti dalam tabel berikut :

Kriteria Penilaian Kesehatan BUMN
Kategori Rentabilitas Likuiditas Solvabilitas
Sehat SekaliSehatKurang sehatTidak Sehat > 12%8% - 12% 5% - 8%<> 150100 - 15075 – 100<> 200150 – 250100 – 150<100
Bobot 75% 12,5% 12,5%
Hasil penelitian atas dasar pedoman penilaian itu beserta cara pengembangan yang direncanakan terhadap masing – masing BUMN sesuai dengan kondisi kesehatan yang dimiliki oeh masing – masing BUMN tersebut.


2. KOPERASI

Ditinjau dari arti katanya koperasi dalam bahasa asing cooperation artinya sebagai kerja sama. Sedangkan dalam arti bisnis koperasi merupakan bentuk kerja sama dari para anggaota dengan tujuan agar dapat memenuhi kebutuhan mereka bersama secara lebih ekonomis. Dengan demikian koperasi dapat dibentuk oleh konsumen ataupun oleh para produsen.
Koperasi konsumsi adalah koperasi yang dibentuk oleh para konsumen. Sedangkan Koperasi Produksi adalah koperasi yang dibentuk oleh produsen. Yang lebih dikenal dengan sebutan KUD (Koperasi Unit Desa).
Bentuk koperasi ini secara modern mula – mula tercetus di Inggris pada awal abad 19 dan kemudian berkembang keseluruh daerah Eropa dan kemudian menjalar kebenua yang lain. Di Indonesia sejak tahun 1950-an telah semakain digalakan pengembangan koperasi ini oleh Pemerintah RI. Upaya pengembangan koperasi ini ditugaskan kepada suatu jawatan yang dibentuk pada saat itu Jawatan Koperasi pada bulan Oktober 1950 yang sampai saat ini lalu ditetapkan “ Hari Koperasi ”. Dengan dibentuknya Jawatan Koperasi ini diharapkan perkembangan bentuk Badan Usaha Koperasi ini menjadi semakin berakar di masyarakat. Seorang tokoh termuka yang menganjurkan bentuk Koperasi ini di Indonesia adalah DR. Mohammad Hatta yang kemudian dianggap sebagai “ Bapak Koperasi Indonesia “. Pemerintahan RI menyadari bahwa faham koperasi ini merupakan penjabaran dari jiwa dan semangat dari pasal 33 ayat 1 UUD 1945. Oleh karena itu maka pemerintah dengan giat membina gerakan koperasi itu antara lain dengan menumbuh kembangkan Koperasi Unit Desa (KUD). KUD adalah merupakan Lembaga Ekonomi Pedesaan yang dibentuk untuk mengatasi masalah – masalah ekonomi yang dihadapi oleh kelompok usaha tani didaerah pedesaan. Yang bertujuan untuk mewujudkan kesejahteraan rakyat dan mendorong peningkatan produksi pertanian rakyat. Perkembangan berikutnya dengan diundangkannya Intruksi Presiden (Inpres) Nomor 2/1987 diperluaslah peranan KUD yaitu menciptakan kestabilan harga pangan serta sebagai mesia memperluas kesempatan kerja dipedesaan. Dengan demikian maka fungsi KUD adalah :
§ Perkreditan
§ Penyediaan Sarana Produksi, Barang – barang Kebutuhan Pokok dan Jasa.
§ Pengolahan dan Pemasaran Hasil – hasil Produksi, serta
§ Kegiatan – kegiatan Perekonomian yang lain.


Tujuan utama yang terkandng dari usaha bersama adalah agar memperoleh kekuatan bersama sehingga akan memperoleh daya saing yang lebih kuat. Hal semacam ini biasanya terjadi pada pengusaha kecil, pertanian kecil dll.
Adapun tujuan yang terkandung dalam bentuk usaha koperasi adalah :
a. Meningkatkan taraf hidup dan kesejahteraan Anggota.
b. Meningkatkan kemakmuran yang adil dan merata bagi segenap anggota – anggota.
Dalam melaksanakan tugas – tugasnya koperasi memiliki prinsip dasar kerja yang berbunyi : “Dari Anggota, Untuk Angota dan Oleh Anggota”. Dari prinsip kerja tersebut memanglah terungkap bahwa semata – mata untuk kepentingan bersama para anggota – anggotanya dan tidak menyangkupan kebutuhan pihak lain ataupun pihak lain.
Bentuk koperasi ini dapat digolongkan menjadi beberapa jenis yaitu :
a. Koperasi Konsumsi
b. Koperasi Kredit
c. Koperasi Produksi
d. Koperasi Jasa
e. Koperasi Serba Usaha
Koperasi Konsumsi adalah koperasi yang bergerak dalam usaha untuk memenuhi kehidupan hidup sehari – hari bagi para anggotanya, misal : beras, sabun, gula, dll. Contoh bentuk ini :
§ Koperasi Pegawai Negri (KPN)
§ Koperasi Mahasiswa (KOPMA)dll.
Koperasi Kredit berusaha untuk mengumpulakn uang simpanan dari para anggota dan kemudian meminjamkannya lagi kepada anggota yang lain yang membutuhkan modal untuk keperluan hidup.
Koperasi Produksi berusaha bersama dalam pengadaan alat – alat perlengkapan produksi, bahan baku, bangunan gudang penyimpanan hasil produksi dari para anggotanya.
Koperasi Jasa bergerak dibidang jasa pelayanan umum yang diperlukan para anggota. Contoh : Kopata(Koperasi Angkutan Kota), Kopedes(Koperasi Angkutan Pedesaan) dll.
Koperasi Serba Usaha adalah berusaha untuk mengelola berbagai jenis kebutuhan yang diperlukan bagi para anggotanya. Contoh : KUD yang mengusahakan bermacam – macam kebutuhan warga desa yang umumnya petani, mengelola mulai dari kebutuhan masyarakat tani peternakdan nelayan maupun kebutuhan sehari – hari.



3. SWASTA

Bentuk badan usaha ini adalah badan usaha yang pemiliknya sepenuhnya berada ditangan individu atau swasta. Yang bertujuan untuk mencari keuntungan sehingga ukuran keberhasilannyajuga dari banyaknyakeuntungan yang diperoleh dari hasil usahanya. Perusahaan ini sebenarnya tidakalah selalu bermotif mencari keuntungan semata tetapi ada juga yang tidak bermotif mencari keuntungan. Contoh : perusahan swasta yang bermotif nir-laba yaitu Rumah Sakit, Sekolahan, Akademik, dll.
Bentuk badan usaha ini dapat dibagi kedalam beberapa macam :
a. Perseorangan
b. Firma/Kongsi Perserikatan
c. Perserikatan Komanditer (CV)
d. Perseroan Terbartas (PT atau NV)
e. Yayasan

A. Perseorangan

Bentuk ini merupakan bentuk yang pertama kali muncul di bidang bisnis yang paling sederhana, dimana dalam hal ini tidak terdapat pembedaan pemilikan antara hal milik pribadi dengan milik perusahaan. Harta benda yang merupakan kekayaan pribadi sekaligus juga merupakan kekayaan perusahaan yang setiap saat harus menanggung utang – utang dari perusahaan itu.
Bentuk badan usaha semacam ini pada umumnya terjadi pada perusahaan – perusahaan kecil, misalnya bengkel kecil, toko pengecer kecil, kerajinan, serta jasa dll.
Keuntungan – keuntungan dari bentuk Perseorangan ini adalah :
§ Penguasaan sepenuhnya terhadap keuntungan yang diperoleh.
§ Motivasi usaha yang tinggi.
§ Penanganan aspek hukum yang minimal.

Kekurangan – kekurangan dari bentuk Perseorangan ini adalah :
§ Mengandung tanggung jawab keuangan tak terbatas.
§ Keterbatasan kemampuan keuangan.
§ Keterbatasan manajerial.
§ Kontinuitas kerja karyawan terbatas
B. FIRMA

Bentuk ini merupakan perserikatan atau kongsi ataupun persatuan dari beberapa pengusaha swasta menjadi satu kesatuan usaha bersama. Perusahaan ini dimiliki oleh beberapa orang dan pimpin atau dikelola oleh beberapa orang pula.
Tujuan perserikatan ini adalahuntuk menjadikan usahanya menjadi lebih besar dan lebih kuat dalam permodalannya.
Bentuk ini memiliki kelebihan dan kekurangan yang sama dengan bentuk Perseorangan, akan tetapi karena Firma ini adalah gabungan dari beberapa usaha perseorangan maka kontinuitas akan lebih lama, kemampuan permodalannya akan lebih menjadi besar. Akan tetapi tidak jarang dengan bergabungnya dua orang pengusaha itu justru mengakibatkan perselisihan yang kadang – kadang usahanya menjadi tak terkontrol dengan baik karena sering terjadi konflik antar keduanya.

C. Perserikatan Komanditer

Bentuk ini banyak dilakukan untuk mempertahankan kebaikan – kebaikan dari bentuk perseorangan yang memberikan kebebasan dan penguasaan penuh bagi pemiliknya atas keuntungan yang diperoleh oleh perusahan. Disamping itu untuk menghilangkan atau mengurangi kejelekan dalam hal keterbatasan modal yang dimilikinya maka diadakanlah penyertaan modal dari para anggota yang tidak ikut aktif mengelola bisnisnya, yang hanya menyertakaan modalnya saja dalam bisnis itu.
Bentuk ini memiliki dua macam anggota yaitu :
§ Anggota aktif (Komanditer Aktif) adalah anggota yang aktif menjalankan usaha bisnisnya dan menanggung segala utang – utang perusahaan.
§ Anggota tidak aktif (Komanditer Diam) adalah anggota yang hanya menyertakan modalnya saja. Maka dari itu kertabatas modal perusahaan dapat dihindarkan, sehingga perusahaan akan dapat mencari dan mendapatkan modal yang lebih besar untuk keperluan bisnisnya. Hal ini merupakan salah satu kebaikan dari bentuk Perserikatan Komanditer, dibandingkan dengan bentuk – bentuk lain yang sudah dibicarakan diatas.



D. Perseroan Terbatas (PT)

Perseroan Terbatas merupakan bentuk yang banyak dipilih, terutama untuk bisnis – bisnis yang besar. Bentuk ini memberikan kesempatan kepada masyarakat luas untuk menyertakan modalnya kedalam bisnis tersebut sengan cara membeli saham yang dikeluarkan oleh Perusahaan itu. Dengan membeli saham suatu perusahaan masyarakat akan menjadi ikut serta memiliki perusahaan itu atau dengan kata lain mereka menjadi Pemilik Perusahaan tersebut. Atas pemilikan saham itu maka mereka para pemegng saham itu lalu berhak memperoleh pembagian laba atau Deviden dari perusahaan tersebut. Para pemegang saham itu mempunyai tanggung jawab yang terbatas pada modal yang disertakan itu saja dan tidak ikut menanggunng utang – utang yang dilakukan oleh perusahaan
Perseroan Terbatas ini akan menjadi suatu Badan Hukum tersendiri yang berhak melakukan tindakan – tindakan bisnis terlepas dari pemegang saham. Bentuk ini berbeda dengan bentuk yang terdahulu yang memiliki tanggung jawab tak terbatas bagi para pemiliknya, yang artinya para pemilik akan menanggung seluruh utang yang dilakukan oleh perusahaan. Berarti apabila kekayaan perusahaan maka kekayaan pribadi dari para pemiliknya ikut menanggung utang tersebut. Dengan semacam itu tanggung jawab renteng. Lain halnya dengan bentuk PT dimana dalam bentuk ini tanggung jawab pemilik atau pemegang saham adalah terbatas, yaitu sebatas modal yang disetorkannya. Kekayaan pribadi pemilik tidak ikut menanggung utang – utang perusahaan. Oleh karena itu bentuk ini disebut Perseroan Terbatas (Naamlose Venootschaap/NV).
Kelebihan – kelebihan Bentuk ini adalah :
§ Memiliki masa hidup yang terbatas.
§ Pemisahan kekayaan dan utang – utang pemilik dengan kekayaan dan utang – utang perusahaan.
§ Kemampuan memperoleh modal yang sangat luas
§ Penggunaan manajer yang profesional.

E. YAYASAN


Yayasan adalah bentuk organisasi wasta yang didirikan untuk tujuan sosial kemasyarakatanyang tidak berorientasipada keuntunga. Misalnya Yayasan Panti Asuhan, Yayasan yang mengelola Sekolahan Swasta, Yayasan Penderita Anak Cacat dll.



BAB I BISNIS DAN LINGKUNGAN

Bab 1BISNIS DAN LINGKUNGAN



1.1. PENGERTIAN BISNIS
Semakin banyak ragam jenis kebutuhan kita maka makin banyak pula jenis usaha yang ada. Hal ini disebabkan karena pada hakikatnya bisnis adalah usaha untuk memenuhi kebutuhan manusia, organisasi ataupun masyarakat luas. Manusia bisnis (Businessman) akan selalu melihat adanya kebutuhan masyarakat dan kemudian mencoba untuk melayaninya secara baik. Dari hal tersebut perusahaan akan mendapatkan keuntungan.

Kalau kita amati dari uraian diatas dapat dilihat adanya bisnis yang menjalankan usahanya dengan mencari keuntungan (dengan motifasi keuntungan, profit motive), akan tetapi ada usaha yang tidak bermotif keuntungan. Sebagai contoh dari bisnis yang tidak bermotif keuntungan (nir laba, non profit motive) adalah sekolah, baik swasta maupun negeri, Perusahaan Air Minum yang biasa dikelolah oleh PDAM, Listrik oleh PLN, jasa pos dan komunikasi oleh PERUMTEL dan masih banyak lagi yang lainnya.

Bisnis juga dapat dibedakan berdasarkan atas jenis kegiatannya. Berdasarkan jenis kegiatannya bisnis dibedakan menjadi 4 macam yaitu :
1. Bisnis Ekstraktif adalah bisnis yang bergerak dalam jenis kegiatan pertambangan atau menggali bahan-bahan tambang yang terkandung dalam perut bumi. Misalnya pabrik semen, tambang timah, aluminium, tembaga, serta PERUM Prtamina yang mengusahakan minyak dan gas bumi.
2. Binis Agraris adalah bisnis yang bergerak di bidang pertanian (termasuk pula pertanian, peternakan dan perunggasan), perkebunan serta kehutanan.
3. Bisnis Industri adalah bisnis yang bergerak di bidang industri manufacturing, misalnya indutri tekstil garmen, mesin-mesin, mebel, pesawat terbang, mobil, sepeda motor, kapal laut maupun pabrik kertas, tapioca dan sebagainya.
4. Bisnis Jasa adalah bisnis yang bergerak dalam bidang jasa yang menghasilkan produk-produk yang tidak berujud seperti jasa pendidikan, kecantikan, perbankan, kesehatan, penanggungan risiko, jasa pariwisata dan sebagainya.

Di samping perbedaan diatas juga ada perbedaan yang lain yaitu atas dasar kegunaan atau kemanfaatan yang diciptakan oleh bisnis itu. Dalam hai ini bisnis dibedakan menjadi 4 yaitu :

1. Kegunaan bentuk (form utility)
Bisnis yang menciptakan kegunaan bentuk adalah bisnis yang berusaha utuk mengubah suatu benda menjadi benda lain yang berbeda bentuknya sehingga menjadi lebih bermanfaat bagi manusia/masyarakat. Sebagai contoh dari bisnis ini adalah Perusahaan Mebel, Perusahaan Tegel, Perusaan Kain, Perusahaan Konfeksi dan sebagainya.

2. Kegunaan tempat (place utility)
Bisnis yang menciptakan kegunaan tempat adalah bisnis yang bergerak dalam bidang transportasi atau pengangkutan, baik angkutan barang maupun angkutan manusia.

3. Keguanaan waktu (time utility)
Bisnis yang menciptakan keguanaan waktu adalah bisnis yang bergerak dalam bidang penyimpanan. Dalam bisnis ini perusahaan berusaha menyimpan barang yang pada waktu itu belum dibutuhkan dan kemudian akan dikeluarkan pada saat barang tersebut dikeluarkan pada waktu yang lebih berguna. Contohnya adalah Dolog atau Bulog.

4. Kegunaan pemilihan (possession utility)
Bisnis yang memindahkan pemilikan barang adalah bisnis yang betgerak dalam bidang perdagangan atau pertokoan. Bisnis ini berusaha memindahkan memindahkan pemilikan barang dari yang tadinya milik pabrik menjadi milik masyarakat.

Sehubungan dalam hal tersebut diatas kita harus menyadari bahwa dalam menjalankan bisnis baik yang bermotif keuntungan maupun yang tidak bermotif keuntungan, harus dilakukan melalui kegiatan tertentu, dimana dalam melakukan kegiatan itu akam memakan banyak ongkos ataupun biaya. Artinya bahwa kita harus berfikir bagaimana kita dapat menutup biaya tersebut agar bisnis dapat terselenggara secara sehat.


1.2. KESEMPATAN BISNIS/USAHA
Bisnis merupakan kegiatan yang berusaha untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Oleh karena itu pengusaha haruslah mulai jeli untuk melihat adanya kebutuhan serta perubahan atau pergeseran terhadap kebutuhan masyarakat. Oleh karena itu kesempatan bisnis akan muncul dari kebutuhan manusia. Dan kita harus tahu bahwa masyarakat akan selalu tumbuh dan berkembang. Perkembangan ini meliputi perkembangan yang bersifat kuantitatif maupun kualitatif.
Ø Pertumbuhan kuantitatif adalah berupa pertambahan jumlah penduduk sebagai akibat dari kelahiran bayi dan pertambahan ummur penduduk serta kematian.
Ø Perkembangan kualitatif dapat berupa bertambahnya pendidikan, masyarakat akan lebih pandai, bertambahnya penghasilan akan membuat masyarakat lebih kaya
Perbedaan jenis-jenis bisnis tersebut dapat pula kita lakukan atas dasar jenis kegiatannya. Dalam hal ini terdapat beberapa macam yaitu :
a. Ekstraktif, yaitu bisnis yang melakukan kegiatan dalam bidang pertambangan. Sebagai contoh adalah bisnis aluminium, baja, batu bara, batu kali dan sebagainya.
b. Agraria, yaitu yang menjalankan bisnisnya dalam bidang pertanian, misalnya beras, tembakau cengkeh dan sebagainya. Termasul juga dalam perusahaan agraris adalah budi daya perikanan, udang serta peternakan.
c. Industri/manufacturing, yaitu bisnis yang bergerak di bidang industri seperti tekstil, garmen, konfeksi, mebel, arloji, sepeda, pesawat terbang serta kapal laut.
d. Jasa, yaitu usaha yang bergerak dalam memenuhi kebutuhan pelayanan jasa bagi masyarakat misalnya jasa kecantikan, jasa pendidikan, foto copy dan sebagainya.

Berdasarkan atas dasar bentuk kegunaan yang diciptakannya maka bisnis dapat dibedakan menjadi beberapa macam yaitu :
a. Kegunaan bentuk (form utility)
Bisnis ini merupakan jenis usaha yang kegiatannya mengubah bentuik dari suatu bentuk tertentu menjadi barang lain yang lain pula bentuknya. Misalnya perusahaan roti, kain, genteng dan sebagainya.
b. Kegunaan tempat (place utility)
Bisnis ini menciptakan kegunaan tempat yang berupa memindahkan sesuatu dari suatu tempat yang kurang bermanfaat dipindahkan ke tempat yang lebih bermanfaat. Perusahaan ini bergerak dalam bidang transportasi baik pengangkutan barang maupun manusia.
c. Keguanaan waktu (time utility)
Bisnis ini merupakan usaha penyimpanan yang bermaksud untuk menyimpan barang dari suatu waktu yang pada saat itu kurang bermanfaat untuk nantinya dikeluarkan pada saat barang tersebut lebih bermanfaat.
d. Kegunaan milik (possession utility)
Bisnis ini menjalankan usaha untuk menciptakan atau memenuhi kegunaan pemilikan terhadap sesuatu barang atau jasa. Misalnya kebutuhan untuk memiliki kesehatan, kecantikan, pendidikan, keamanan dan sebagainya.

Semua orang membutuhkan makanan, minuman dan sebagainya bahkan tidak jarang juga membutuhkan penghargaan dari masyarakat untuk menunjukan kebolehan dalam suatu bidang tertentu kepada masyarakat. Kebutuhan tersebut oleh Abraham Maslow dalam teorinya tentang “Teori Hieraki Kebutuhan Manusia” disebutkan bahwa kebutuhan manusia itu memiliki struktur yang berjenjang, mulai dari jenjang kebutuhan yang paling dasar sampai yang paling tinggi.




Adapun hierakhi kebutuhan manusia itu adalah sebagai berikut ;
1. Kebutuhan Fisiologik (Jasmaniah/fisik)
Kebutuhan dasar/fisiologik, terhadap kebutuhan ini dapat dilaksanakan usaha atau bisnis makanan, pakaian dan sebagainya.

2. Kebutuhan Rasa Aman
Kebutuhan rasa aman, dalam hal ini bisnis dapat dieksploitasikan, misalnya bisnis sepatu, helm, bemper tambahan pada mobil dan sebagainya.

3. Kebutuhan Sosial (Kemasyarakatan/berteman)
Kebutuhan ini adalah kebutuhan kemasyarakatan maka bisnisnya adalah berupa usaha pendidikan umum, pendidikan ketrampilan, pendidikan moral dan sebagainya.

4. Kebutuhan Harga Diri
Produk-produk yang dapat dikembangkan guna memenuhi kebutuhan ini adalah berupa produk yang bermutu lebih baik, seperti restoran yang bagus, video serta barang-barang yang mewah.

5. Kebutuhan Aktualisasi Diri (Pernyataan Jati Diri)
Bisnis yang melayani kebutuhan ini adalah berupa bisnis yang mampu membawa atau menunjukkan jati diri seseorang misalnya arena balap sepeda, sepeda motor, arena pameran lukisan dan lain-lain.
Kebutuhan menurut Abraham Maslow merupakan kebutuhan yang berjenjang mulai yang paling bawah sampai yang tertinggi.

1.3. PENGARUH LINGKUNGAN
Perkembangan masyarakat sangat dipengaruhi perkembangan masyarakat, baik lingkungan alam maupun lingkungan social kemasyarakatan. Suatu keadaan dimana tersedia tanah perumahan semakin sulit mendorong masyarakat untul menyenangi rumah susun. Gambaran tersebut menunjukan pengaruh lingkungan alamiah terhadap perkembangan bisnis.

Factor lingkungan tersebut dapat berupa :
a. Alam
b. Ekonomi
c. Teknologi
d. Sosial
e. Budaya
f. Pemerintah
g. Hubungan Internasional

Factor tersebut diatas akan menimbulkan kesempatan / potensi bisnis serta pergeseran-pergeseran terhadap potensi bisnis itu. Factor-faktor tersebut akan dijelaskan sebagai berikut :

a. Faktor Alam
Factor lingkungan alam sangat berpengaruh terhadap kesempatan bisnis beserta perkembangannya. Suatu Negara kaya akan lahan pertanian yang subur seperti Indonesia akan lebih cenderung untuk mengembangkan kesempatan bisnis dari hasil-hasil pertanian.


b. Faktor Ekonomi
Faktor ekonomi akan sangat mempengaruhi potensi dunia usaha. Kondisi Ekonomi yang tumbuh (growth) atau sering juga disebut boom atau prosperity akan mengakibatkan naiknya penghasilan masyarakat yang akhirnya akan meningkatkan kebutuhan masyarakat dalam segala bidang baik kuantitatif maupun kualitatif.

c. Faktor Teknologi
Teknologi merupakan ilmu yang mengupayakan agar selalu tercipta metode-metode kerja yang lebih baik dalam melakukan suatu pekerjaan.

d. Faktor Sosial
Masyarakat tumbuh dan berkembang, misalnya adanya perkembangan pendidikan membuat masyarakat lebih pandai dan ingin lebih pandai lagi. Sehingga semua orang mendambakan menjadi pemuda yang profesional atau yang sering dikenal sebagai “YUPPIES” singkatan dari Young and Proffesionals.

e. Faktor Budaya
Perkembangan yang bagus dan menarik di tanah air saat ini adalah kesadaran untuk melestarikan budaya tradisional milik bangsa. Kondisi ini memiliki manfaat ganda yaitu pertama menangkal masuknya budaya asing yang kurang sesuai dengan budaya kita dan kedua adalah menjadikan bisnis kita menjadi raja dinegeri sendiri.

f. Faktor Pemerintah
Kebijaksanaan pemerintah akan sangat mempengaruhi kesempatan bisnis maupun kondisi bisnis pada umumnya. Kebijaksanaan DEREGULASI yang dilakukan pemerintah Republik Indonesia selama ini sangat berpengaruh terhadap perkembangan bisnis kita yang semakin mantap baik dalam hal volume omset maupun daya saingnya.

Secara kuantitatif dunia bisnis telah berkembang dengan pesat terbukti dari perkembangan volume ekspor yang semakin lama semakin berkembang.

g. Hubungan/Pergaulan Internasional
Factor yang terakhir adalah hubungan antar bangsa. Saat ini kita sedang masuk dalam abad komunikasi. Dalam keadaan seperti ini kita dapat mengetahui kejadian di seluruh dunia. Dengan kndisi seperti ini maka tidak satu pun Negara yang luput dari pengaruh Negara lainnnya. Politik suatu Negara sangat berpengaruh pada kebijaksanaan Negara lain. Hal ini yang menimbulkan gejala “GLOBALISASI”. Gejala ini mempunyai hubungan yang sangat erat dengan dunia bisnis, disini dapat dijelaskan bahwa kegiatan bisnis suatu Negara yang baik dan kuat akan cepat mempengaruhi bisnis Negara lain.


DINAMIKA LINGKUNGAN
Kebutuhan manusia merupakan kesempatan bisnis. Kesempatan bisnis akan dipengaruhi oleh fakto-faktor lingkungan, baik lingkungan alami maupun lingkungan yang non alami. Hal ini disbabkan karena lingkungan alami selalu bersifat dinamis dengan kata lain akan selalu berkembang, terutama lingkungan yang non alami yaitu lingkungan masyarakat.



1.4. PENDEKATAN DALAM MELIHAT BISNIS DAN LINGKUNGAN
Kesempatan bisnis serta bisnis itu akan selalu dipengaruhi oleh lingkungan. Hubungan antar bisnis dengan lingkungan sangat erat. Perusahaan yang tidak mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan akan tersingkir dari kancah persaingan bisnis. Hubungan antar bisnis dengan dengan lingkungan kemudian ditelaah oleh para usahawan. Pada mulanya telaah dilakukan secara tradisional yaitu mereka beranggapan bahwa bisnisnyalah yang merupakan hal yang terpenting atau yang menduduki titik sentral sedangkan lingkungan merupakan hal sekunder yang mengelilingi bisnisnya. Pandangan tradisional tersebut sering disebut dengan yang berorientasi produsen atau “Producer Oriented Aproach”. Pandangan itu memang cocok dengan kondisi saat itu , dimana pada saat itu keadaannya disebut sebagai “seller’s market”, yang artinya produsen masih langka sehingga barang apapun yang dihasilkan akan selalu terjual.

Akan tetapi keadaan itu berubah, dimana pengusaha menjadi bertambah banyak dan masyarakat menjadi lebih selektif sehingga timbulah persaingan yang ketat diantara para pengusaha. Hanya pengusaha yang mampu menyesuaikan diri dengan kebutuhan konsumenlah yang mampu bertahan. Keadaan ini disebut “buyer’s market” atau “pasar pembeli” yaitu keadaan dimana pembeli yang akan menentukan semuanya dan bukan bukan penjual. Dalam hal ini berlaku suatu ungkapan “pembeli adalah raja”.

Dalam hal ini siapa yang berhasil mendekati konsumen dialah yang akan bertahan dalam kancah persaingan bisnis. Pada saat seperti inilah pengusaha harus pandai melihat factor lingkungan. Jadi dalam hal ini yang merupakan factor yang sentral adalah masyarakat atau konsumen sedangkan pengusaha atau bisnisman mengelilinginya untuk melayani kebutuhan secara lebih baik sesuai dengan selera konsumen. Pandangan ini disebut “Consumer Oriented Approach” atau “pendekatan yang berorientasi konsumen”.



























PERUSAHAAN SEBAGAI SUATU SISTEM LOGISTIK DAN SISTEM MANAGEMEN
Perusahaan yang mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan akan berhasil melangsungkan hidupnya. Dalam hal ini perusahaan dapat dibedakan menjadi dua proses yaitu :

1. Proses Logistik
Proses logistik yaitu meliputi proses perubahan atau transformasi dari factor-faktor produksi (input) yang berupa bahan dasar, tenaga kerja, modal, mesin-mesin yang berasal dari masyarakat menjadi produk atau barang lain atau jasa (output) yang kemudian dilemparkan ke pasar.

2. Proses Manajemen
Proses manajemen meliputi pengendalian informasi yang berkaitan dengan kegiatan-kegiatan yang ada di dalam proses logistik.



Manajemen sebagai proses meliputi tiga macam kegiatan atau keputusan yaitu dijelaskan sebagai berikut :
a. Keputusan Strategis
Keputusan strategis membentuk hubunngan antara perusahaan dengan lingkungan dan perhatian utama ditunjukan kepada pembentukan dan pemeliharaan kombinasi produk dan jasa yang ditawarkan di pasar.
b. Keputusan Administratif
Keputusan administratif berhubungan dengan pembentukan struktur organisasi perusahaan, meliputi tidak hanya organisasi formal tetapi juga bentuk komunikasi , status evaluasi dan system penghargaan.
c. Keputusan Operasional
Keputusan operasional berkaitan dengan penentuan kegiatan-kegiatan pada bagian operasional di perusahaan dalam hubungannya dengan aliran proses produksi atau proses logistik.


KONSEP NILAI/LABA
Nilai ekonomis diciptakan oleh kegiatan yang terjadi dalam mekanisme pasar antara pembeli dengan penjual. Dalam transaksi pembelian maka keduabelah pihak memperoleh imbalan. Besarnya imbalan ditentukan oleh perbedaan antara nilai dari suatu yang diberikan dengan nilai dari sesuatu yang diterima. Kelebihan nilai tersebut disebut dengan laba. Dengan keuntungan tersebut maka perrusahaan dapat memperluas usahanya.


STRATEGI PERUSAHAAN (CORPORATE STRATEGY)
Strategi adalah pedoman arah dan kebijakan yang disesuaikan dengan kondisi kekuatan dan kelemahan perusahaan (a patern of purpose and policies which are unique to the firm – Keneth R. Andrew, “New Horizons in Corporate Strategy”, Mc Kinsey Quaterly, Winter 1971 p. 34 – 43). Lebih realistik lagi strategi perusahaan adalah sebuah rencana kegiatan untuk mencapai tujuan dengan memperhatikan keterbatasan dengan factor-faktor produksinya, perubahan lingkungan dan persaingan. Dengan kata lain kita harus melakukan sinkronisasi terhadap persoalan jangka panjang dan jangka pendek atau persoalan operasional, administrative dan strategis.






















1.5. HAKIKAT BISNIS
Seorang bisnisman atau wirausahawan akan melihat kebutuhan masyarakat lingkungannya. Upaya ini merupakan proses mengidentifikasi potensi bisnis (potensi pasar), bahkan dalam hal ini biasanya diikuti dengan perkiraannya serta antisipasinya atas pertumbuhan potensi pasar tersebut dimasa depan. Disamping itu dia juga akan memperhitungkan adanya persaingan yang timbul dari pengusaha lain yang juga bergerak dalam melayani kebutuhan pasar yang sejenis. Disisi lain pengusaha haruslah memikirkan tesedianya suber daya serta sumber dana beserta cara-cara yang sebaik-baiknya guna melayani kebutuhan pasar tersebut dengan memproduksikan dan menyajikan barang atau jasa yang dihasilkannya itu kepada masyarakat. Dalam hal ini tentu saja diharapkan hasil yang diperolehnya itu akan melebihi biaya atau ongkos yang dikorbankannya dalam kegiatan bisnis itu. Kelebihan hasil diatas ongkosnya itulah yang merupakan laba/keuntungannya.



1.6. MENGAPA BELAJAR BISNIS?
Dewasa ini semakin banyak orang atau pihak-pihak yang berkeinginan untuk mempelajari bidang bisnis ini. Tidak hanya para ekonom, para pengusaha praktisi bisnis saja akan tetapi juga para teknokrat, para birokrat, para insinyur, para dokter dan bahkan para seniman pun berkeinginan untuk mempelajarinya. Banyak pula para mahasiswa yang memilih bidang bisnis atau menejemen bisnis ini.

Beberapa alas an yang pada umumnya merupakan motivasi mereka untuk memepelajari bidang bisnis ini adalah :

1. Karier Dimasa Depan
Bidang-bidang karier ini pada umumnya meliputi keahlian dibidang-bidang :
· Keuangan atau perbankan
· Pemasaran
· Akuntansi
· Produksi dan Operasi
· Data Processing
· Personalia

Sehubungan dengan alasan-alasan itu banyak pula yang mempelajari bisnis ini secara formal untuk meraih jenjang kenaikan karier yang selama ini sudah ditekuninya.

2. Membuka Bisnis Sendiri atau Berwiraswasta
Hal ini dimaksudkan untuk mempelajari prinsip dasar serta konsep dan metode untuk menjalankan bisnis secara professional dan menguntungkan. Alas an ini banyak pula dimiliki oleh bisnisman yang telah berwiraswasta untuk memperbaiki performance bisnis mereka selama ini para wmemang mendambakan pengetahuan bisnis atau manajemen bisnis ini karena dengan metode yang lebih baik mereka akan lebih berhasil.

3. Pengendalian Masalah-masalah Sosial
Semua orang akan selalu terlibat dengan kegiatan bisnis hal ini tidak jarang kegiatan bisnis menimbulkan gangguan masyarakat dan lingkungan, baik gangguan alami maupun gangguan manusiawi. Gangguan tersebut dapat berupa polusi udara, polusi suara, polusi air limbah industri, pelestarian hutan, serta alam yang lain. Masalah-masalah perburuhan juga akan muncul dari kegiatan bisnis ini misalnya tentang upah minimum, keselamatan kerja, kesejahteraan karyawan, bahkan program KB.

Bagaimana Mempelajari Bisnis
Dunia bisnis kita telah berkembang pesat dan lapangan kerja serta karier banyak terbuka dalam bidang ini baik bisnis yang bermotif keuntungan maupun yang nir-laba, baik swasta maupun pemerintah, baik domestic maupun yang berskala internasional. Hal itu semua akan memerlukan pendidikan terutama pendidikan formal untuk mengajarkan konsep-konsep, prinsip-prinsip serta metode yang tepat dalam menjalankan bisnis secara sehat.

Bisnis dapat di pelajari baik secara fomal maupun non formal. Pendidikan formal dilaksanakan melalui lembaga-lembaga pendidikan seperti Akademi, Universitas, Sekolah Tinggi, Institut dan sebagainya. Dalam pendidikan formal ini akan diberikan kerangka pikir dan kerangka kerja untuk dikombinasikan dengan ketrampilan dan pengalamannya guna membentuk landasan usaha yang lebih kokoh dan dinamis. Dalam hal ini pelajaran bisnis pada umumnya akan dibagi kedalam beberapa bidang studi seperti Keuangan, Pemasaran, Produksi dan Operasi, Personalia, Akuntansi, Biaya, Manajemen Umum dan sebagainya.


BAB II TANGGUNG JAWAB SOSIAL SUATU BISNIS

Bab 2
TANGGUNG JAWAB SOSIAL SUATU BISNIS


2.1. BENTURAN DENGAN KEPENTINGAN MASYARAKAT
Di dalam menjalankan tugasnya memproduksi barang atau jasa untuk disajikan kepada konsumen tidak jarang terjadi konflik kepentingan masyarakat umum dengan perusahaan. Bentrokan kepentingan ini sering terjadi terutama dalam hal timbulnya POLUSI oleh perusahaan dalam menjalankan bisnisnya. Polusi ini dapat berupa polusi udara, limbah, suara, dan bahkan polusi mental kejiwaan.

Sebagai contoh dari hal yang terakhir itu ( polusi mental kejiwaan dapat ditujukan dari adanya larangan pemerintah terhadap penyiaran iklan atau advertensi di TVRI sejak tahun 1980 – an. Tindakan pemerintah itu merupakan penyelesan konflik yang terjadi antara bisnisman yang ingin menayangkan iklannya lewat TV dengan kepentingan mental kejiwaan masyarakat yang merasa sangat terganggu oleh siaran iklan di TVRI yang sangat mendorong pola konsumtif serta penggunaan obat – obatan yang kurang tepat dan lain sebagainnya.

Tanggung jawab social suatu bisnis juga tercermin dari dituntutnya ganti rugi yang cukup besar oleh masyarakat sekitar pabrik yang menjadi korban atas meledaknya tangki nuklir dari suatu pabrik Gas UNION CARBITE di Bopal, India pada tahun 1986. Anjuran Bapak Presiden Soeharto dalam tahun 1990 kepada para konglomerat Indonesia yang telah menikmati lebih banyak hasil – hasil pembangunan untuk membagikan sebagian sahamnya kepada Koperasi, adalah juga merupakan pencerminan dari penjabaran tanggung jawab social suatu bisnis . Dari uraian diatas dapatlah kita tangkap bahwa tanggungjawab social suatu bisnis, dewasa ini menjadi suatu topic yang cykup menonjol. Bisnisman dituntut untuk lebih banyak memperhatikan aspek – aspek social dan menerapkan etika bisnis secara jujur.

Bisnisman dituntut untuk lebih banyak memperhatikan aspek-aspek sosial dan menerapkan etika bisnis secara jujur. Konflik kepentingan bisnis dengan masyarakat akan selalu muncul dan kadang sulit untuk menyelesaikannya. Apabila konflik mencapai jalan buntu maka biasanya masyarakat akan menggunakan tangan pemerintah sebagai penengah. Hal itu yang melatarbelakangi ketentuan pemerintah untuk mewajibkan pengusaha yang akan mendirikan pabrik harus mendapatkan Izin HO (Hinder Orgonasie) agar dapat dicegah adanya konflik dikemudian hari.



KLASIFIKASI ASPEK PENDORONG TANGGUNG JAWAB SOSIAL
Perusahaan yang tidak memperhatikan kepentingan umum dan menimbulkan gangguan lingkungan akan dianggap sebagai bisnis yang tidak etis. Dorongan pelaksanaan etika bisnis dating dari luar yaitu lingkungan masyarakat. Dorongan tidak selalu datang dari luar, akan tetapi sering muncul dari bisnis itu sendiri. Hal ini disebabkan karena bisnisman adalah juga manusia yang lengkap dengan rasa, karsa dan karya. Dengan demikian maka secara intern pelaksanaanya akan terbentur pada pertimbangan untung dan rugi yang pada umumnya mendominasi dan menjadi ciri dari suatu bisnis. Oleh karena itu mereka juga sering terdorong rasa kemanusiannya untuk menerapkan etika bisnis secara jujur.


2.2. DORONGAN TANGGUNG JAWAB SOSIAL
Problem-problem social seperti kebersihan kota, kesehatan, lingkungan, ketertiban masyarakat, pelestarian lingkungan alam dan sebagainya, mendorong mendorong para bisnisman untuk melakukan kegiatan bisnisnya seiring dengan terciptanya kondisi trsebut.

Adapun masalah-masalah sosial yang mendorong suatu bisnis melaksanakan tanggung jawab sosialnya dapat diklasifikasikan menjadi 4 macam yaitu:


1. Penerapan Manajemen Orientasi Kemanusiaan
Pada umumnya kegiatan-kegiatan itern yang terjadi di dalam perusahaan menimbulkan bentuk-bentuk hubungan kedinasan yang sangat kaku, keras, zakeliyk, birokratik, dan otoriter. Prosedur administrasi yang panjang dan berbelit-belit serta jenjang wewenang dan struktur organisasi sering kali menimbulkan tekanan batin bagi para pelaksana bisnis. Tidak jarang bawahan menjadi takut untuk mengemukakan pendapatnya kepada atasan. Mahasiswa menjadi gemetar bila akan berkonsultasi dengan dosennya. Pegawai administrasi menjadi takut berbincang – bincang dengan direkturnya dan lain sebagainnya.

Hal ini disebabkan karena pada umumnya hubungan – hubungan dilaksanakan melalui surat – surat dinas , kartu dinas, kartu kerja, memo dinas, nota – nota dinas dan lain sebagainya, dan dibarengi dengan prosedur administrasi yang sangat panjang apalagi otoriter. Hubungan kemanusiaan lalu menjadi kaku dan terbenruklah suasana yang dalam bahasa jawa terungkap ” sopo siro / sopo ingsun ” yang artinya siapa kamu siapa saya. Hubungan ini menimbulkas suasanakerja yang kurang manusiawi diantara mereka dalam perusahaan itu sendiri . Hubungan yang kurang manusiawi seering pula terjadi antara perusahaan dengan pihak luar yang berhubungan dengannya.

Pihak luar dapat berupa langganan atau masyarakat umum yang tidak berhubungan dengan perusahaan itu tidak jarang kita memberi barang yang jelek (susu kotak yang sudah busuk) disebuah toko misalnya. Kasus ini pernah dialami sendiri oleh penulis. Ketika kami buka dan dirasakan atau dicicipi dulu sebelum diberikan kepada anak kami ternyata memang busuk, maka kami lalu meminta untuk ditukar dengan yang baru. Apa yang terjadu justru kami yang dipersalahkan mengapa membeli susu yang busuk. Bukannya dia menyadari kesalahannya yang telah menjual barang busuk. Tentu saja pada saat itu terjadi ketegangan urat terutama dengan istri kami terhadap penjaga toko itu. Akan tetapi segera saya sadari bahwa penjaga toko itu juga bukan pemilik toko, dan dia hanya menjalankan tugasnya sehingga dia bersikap seperti itu maka lebih baik mengalah saja.

Kasus lain juga sering kita alami bersama dimana kita mendapatkan pelayanan yang kasar dan menjengkelkan dari seorang petugas jaga telepon yang dengan nada membentak menjawab pemohon pihak luar untuk minta disambungkan dengan pesawat tertentu dari kantor atau perusahaan tersebut. Nada suara semacam itu akan terasa tidak etis dan kurang sipan di telinga kita . konflik kepentingan juga terjadi antara perusahaan penerbit dengan perusahaan penyalur buku – buku terbitannya. Penyalur sering marah – marah terhadap penerbit yang banyak dirugikan oleh pelayanan penerbit yang sering mengganti warna dan bentuk sampul buku yang di terbitkan tanpa memberitahukan hal itu kepada penyalurnya.

Tentu saja keadaan itu mengakibatkan buku – buku dengan sampul yang lama menjadi tidak laku yang pada saat itu masih berada pada stok para penyalur. Protes keras lalu dilakukan penyalur kepada penerbit. Sebaliknya penerbit juga sering dirugikan oleh para penyalur karena penyalur tidak menghendaki rencana penerbit untuk melayani sendiri tanpa lewat penyalur pembelian – pembelian dalam jumlah besar dari toko – toko buku yang ingin menjadi grosir ( pembelian dalam jumlah besar ). Kedaan tersebut diatas menuntut diberlakukan MANAJEMEN ORIENTASI KEMANUSIAAN ( Manajemen OK ).


MANFAAT PENERAPAN MANAJEMEN ORIENTASI KEMANUSIAAN
Penerapan manajemen orietasi kemanusiaan alkan menimbulkan hubungan yang serasi , selaras dan seimbang diantara para petugas atau karyawan dalam perusahaan tersebut maupun antara perusahaan dengan pihak lain diluar perusahaan.

Adapun secara rinci manfaat tersebut berupa sebagai berikut:
a. Moral kerja karyawan akan meningkat dan kemudian akan mendorong semangat kerja sehingga produktivitas kerjapun akan meningkat pula.
b. Partisipasi bawahan akan muncul dan menimbulkan rasa handarbeni/memiliki dari para bawahan sehingga akan tercipta manajemen partisipatif.
c. Hubungan kerja yang baik dan menyenangkan akan membawa kenyamanan kerja sehingga absensi karyawan akan berkurang.
d. Rasa percaya diri dari para karyawan juga akan terbentuk dan hal ini akan mempertinggi mutu/kwalitas produksi.
e. Kepercayaan masyarakat dan konsumen akan meningkat dan hal ini merupakan modal dasar bagi perkembangan selanjutnya dari perusahaan yang bersangkutan. Kepercayaan konsumen dicerminkan dalam bentuk” Brand loyalty” atau dengan istilah lain perusahaan tersebut memperoleh “patronage motive” dari para pembelinya, yaitu nama baik yang diberikan oleh konsumen kepada produsen.

2. Ekologi dan Gerakan Pelestarian Lingkungan
Ekologi mempelajari keseimbangan antara manusia dengan lingkungan sekitarnya pada saat ini mendapatkan perhatian yang sangat besar bagi di Indonesia maupun di luar negeri. Kegiatan bisnis sering kali menimbulkan gangguan ekologi. Misalnya hutan-hutan banyak yang ditebang untuk industri perkayuan, tanah menjadi gundul yang menimbulkan bencana banjir di suatu tempat.

Ular juga banyak diburu untukl industri kulit sehingga tikus menjadi meraja lela kemudian mengganggu lahan pertanian. Bur ung – burung juga banyak ditangkapi sehingga ulat serta belalang menjadi kehilangan predatornya lalu berkembang pesat populasinya yang akhirnya mengganggu tanaman pertanian maupun perkebunan yang sulit diberantas.

Penangkapan ikan sering dilakukan dengan menggunakan racun atau bahkan sengatan listrik . hal ini dimaksudkan agar efektif dan hasil tangkapannya banyak. Dengan cara itu memang ikan yang diperoleh sangat banyak, akan tetapi hasil tersebut hanyalah sementara itu saja, karena seluruh ikan akan mati karenanya sampai dengan anak – anak ikan yang masih kecil dan bahkan mungkin telurnyapun ikut terbunuh. Dengan demikian maka hari – hari akan tidak dapat panen ikan lagi. Praktik – praktik bisnis semacam itu pada saat ini sudah sangat jauh berkurang berkat adanya penyuluhan serta gerakan pelestarian lingkungan hidup Indonesia .

Disamping hal – hal tersebut diatas masalah ekologi banyak pula menyangkut masalah POLUSI. Pabrik – pabrik sering membuang limbah industrinya yang sangat mengganggu masyarakat sekitarnya.



3. Penghematan Energi
Energi yang berasal dari sumber daya alam telah banyak terkuras oleh kegiatan bisnis seperti misalnya batu bara, minyak dan gas, di mana energi macam itu tergolong energi yang tidak dapat direproduksi lagi. Oleh karena itu maka pemikiran penghematan penggunaan energi macam itu perlu segera digiatkan.

Adapun masalah penanganan energi ini pada umumnya dapat dikelompokkan menjadi 2 macam yaitu :

· Problem jangka pendek
Problem jangka pendek mencakup penghematan pemakaian energi serta konservasi sumber alam tersebut agar dapat lebih awet dan dapat bertahan cukup lama.

· Problem jangkla panjang
Penanganan energi dalam jangka panjang meliputi dua macam masalah yaitu :
o Penciptaan sumber-sumber energi alternative/pengganti
o Koordinasi antara tujuan-tujuan sosial dengan bertambahnya kebutuhan energi

4. Partisipasi Pembangunan Bangsa
Kesadaran pabrik-pabrik untuk tidak menerapkan teknologi padat modal dan kemudian secara sadar menerapkan teknologi padat karya yang banyak menyerap tenaga kerja adalah upaya yang perlu digiatkan. Penggunaan teknologi padat modal lebih banyak menggunakan mesin, memang lebih efisien tetapi kurang membantu program pemerintah dalam hal mengatasi problem penciptaan kesempatan kerja bagi masyarakat dan bangsa.

5. Gerakan Konsumerisme
Dewasa ini muncul gerakan yang berusaha untuk memperjuangkan hak konsumen untuk mendapatkan perlindungan terhadap pelayanan bisnis yang merugikan kepentingannya. Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) merupakan contoh nyata gerakan ini.

Tujuan yang terkandung dalam gerakan konsumerisme mencakup beberapa macam yaitu:
a. Memperoleh perhatian dan tindakan nyata oleh kalangan bisnis terhadap keluhan konsumen atas praktik bisnisnya
b. Pelaksanaan strategi advertensi/ periklanan yang realistis dan mendidik serta tidak menyesatkan masyarakat.
c. Diselenggarakannya panel diskusi secara periodic antara wakil konsumen dengan para pengusaha.
d. Perbaikan service purna jual yang lebih baik serta mengurangi kejengkelan dari frustasi konsumen atas pemakaian barang yang dibelinya.
e. Terselenggarakannya kegiatan “Public Relation” atau “PR” yang menitikberatkan pada pelayanan dengan sasaran kepuasan konsumen dan tidak hanya promosi semata-mata.

Sehubungan dengan hal ini dapatlah kita kutip pernyataan dari seorang tokoh yang cukup terkenal di dunia yaitu Presiden Jonh F. Kennedy pada tahun 1962 yang tertuang dalam Journal of Business, December 1969, pp. 25-29 yang menyatakan bahwa hak-hak konsumen adalah berupa:
a. Konsumen memiliki hak atas keselamatan.
b. Konsumen memiliki hal untuk memperoleh informasi.
c. Konsumen memiliki hak untuk memilih.
d. Konsumen memiliki hak untuk didengarkan.

Perlindungan konsumen yang dilaksanakan pasca 1962 pada umumnya didasarkan pada hak-hak konsumen tersebut. Kesemuanya itu merupakan pedoman dasar bagi pelaksana bisnis yang menjamin hak-hak konsumen.


2.3. ETIKA BISNIS
Etika bisnis merupakan tanggung jawab social suatu bisnis yang timbul dari dalam perusahaan itu sendiri. Bisnis selalu berhubungan dengan masalah-masalah etis dalam melakukan kegiatannya sehari – hari. Hal ini dapat dipandang sebagai etika pergaulan bisnis. Seperti halnya manusia yang memiliki etika pergaulan antar manusia, maka pergaulan bisnis dengan masyarakat umum juga memiliki etika pergaulan yaitu etika pergaulan bisnis. Kalau dalam pergaulan antar manusia akan terjadi pergaulan atau hubungan antara anak dengan orang tua, antara murid dengan gurunya, antara mahasiswa dengan dosennya, antara seseorang dengan tetangganya dan anatara pemakai jalan yang satu dengan yang lainnya dan masih banyak lagi yang lainnya. Etika pergaulan bisnis dapat meliputi beberapa hal antara lain :

1. Hubungan antara bisnis dengan langganan atau konsumen
Hubungan anatara bisnis dengan langgananya merupakan hubungan yang paling banyak dilakukaan , oleh karena itu bisnis haruslah menjaga etrika pergaulannya secara baik dalam hal ini.
Adapun pergaulan dengan konsumen misalnya :
a. Kemasan yang berbeda-beda membuat konsumen sulit untuk membandingkan harga terhadap produknya.
b. Kemasan membuat konsumen tidak dapat mengetahui isi didalamnya, sehingga produsen perlu menjelaskan isi dan kandungan yang terdapat di dalam produk itu
c. Promosi terutama iklan merupakan gangguan etis yang paling utama
d. Pemberian servis dan garansi adalah merupakan tindakan yang sangat etis bagi suatu bisnis

2. Hubungan dengan karyawan
Manajer yang pada umumnya selalu berpandangan memajukan bisnisnya sering kali berurusan denga etika pergaulan dengan karyawannya. Pergaulan bisnis dengan karyawan ini meliputi beberapa hal yaitu meliputi Penarikan (recruitment), Latihan (training), Promosi atau kenaikan pangkat, transfer, demosi (penurunan pangkat) ataupun lay-off atau pemecatan/PHK (pemutusan Hubungan Kerja)

3. Hubungan antara bisnis
Hubungan ini merupakan hubungan antara perusahaan yang satu dengan perusahaan yang lain. Hal ini bias terjadi hubungan antara perusahaan dengan pesaingnya, dengan penyaluranya, dengan grosirnya, dengan pengecernya, agen tunggalnya maupun distributornya.


4. Hubungan dengan investor
Perusahaan yang berbentuk perseroan terbatas dan yang terutama yang akan dan telah “go public” harus menjaga pemberian informasi yang jujur, karena informasi yang tidak jujur akan menjerumuskan para infestor untuk mengambil keputusan investasi yang keliru. Oleh karena itu masyarakat yang calon pemodal yang ingin membeli saham haruslah diberi informasi secara lengkap dan benar. Jangan sampai terjadi adanya manipulasi terhadap informasi. Dalam hal ini peranan pemerintah serta perusahaan penjamin emisi (pialang) adalah sangat penting dalam hal memberikan informasi serta prospectus dari perusahaan yang menjual saham di pasar bursa saham.

Tangan pemerintah yang bergerak dalam bidang ini adalah BAPEPAM (Badan Pelaksana Pasar Modal). BAPEPAM merupakan badan yang berada langsung di bawah dan bertanggung jawab kepada Menteri Keuangan yang bertugas untuk :
a. Mengadakan penilaian terhadap perusahaan yang akan menjual sahamnya melalui pasar modal
b. Menyelenggarakan bursa pasar modal secara efektif dan efisien, serta menyusun dan mengumumkan perkembangan kurs efek-efek di pasar bursa
c. Membantu perkembangan perusahaan-perusahaan yang go public tersebut

5. Hubungan dengan lembaga-lembaga keuangan
Hubungan dengan lembaga keuangan terutama Jawatan Pajak merupakan hubungan pergaulan yang bersifat financial. Hubungan ini merupakan hubungan yang berkaitan dengan Penyusunan Laporan Keuangan. Laporan financial tersebut harus disusun secara benar sehingga tidak terjadi kecenderungan kearah penggelapan pajak.

Pihak lain yang terkait dalam kegiatan bisnis tidak saja hanya para pemegang saham akan tetapi masih banyak lagi diantaranya adalah :
a. Pekerja/Karyawan
b. Konsumen
c. Kreditor
d. Lembaga-lembaga Keuangan
e. Pemerintah

Perusahaan yang menjalankan bisnisnya dengan mengingat atau memperhatikan kepentingan pihak-pihak yang terkait dalam kegiatan bisnis yang tidak saja hanya mementingkan kepentingan pemegang saham saja merupakan pengusaha yang menerapkan konsep baru yang dikenal sebagai konsep “Stakeholder”.


PENGERTIAN ETIKA DAN AKHLAK
Istilah etika berasal dari bahasa Yunani ethos yang berarti adat kebiasaan. Sedangkan istilah moral dari kata mores juga berarti adat kebiasaan, hanya yang terakhir ini bukan berasal dari bahasa Yunani tetapi dari bahasa Latin. Karena secara etimologi mempunyai arti yang sama dan dalam kenyataannya sering disamakan penggunaannya.

Menurut pendapat para ahli, selanjutnya dapat dibedakan arti etika menjadi tiga (3) yaitu :
1) nilai-nilai dan norma-norma moral sebagai landasan perilaku
2) kumpulan azas atau nilai norma atau kode etik
3) Ilmu tentang baik buruk sebagai cabang filsafat.

Etika merupakan ilmu tentang norma-norma, nilai-nilai dan ajaran moral, sedangkan moral adalah rumusan sistematik terhadap anggapan-anggapan tentang apa yang bernilai serta kewajiban-kewajiban manusia. Dapat disimpulkan bahwa berdasarkan kenyataan tidak terlalu dapat dibedakan pengertian etika dan moral, tetapi menegaskan arti etika bisa berarti ilmu tentang baik-buruk dan bisa juga norma, nilai serta ajaran moral itu sendiri.
Kata akhlak berasala dari bentuk jama’ bahasa Arab khuluq yang berarti budi pekerti atau perangai. Akhlak dapat diartikan dalam dua macam: 1) Pengetahuan yang menjelaskan arti baik dan buruk, tujuan, perbuatan, serta pedoman yang harus diikuti. 2) Pengetahuan yang menyelidiki perjalanan hidup manusia sebagai parameter perbuatan, perkataan serta ikhwal kehidupan. 3) Suatu sifat permanen pada diri orang yang melahirkan perbuatan secara mudah tanpa membutuhkan proses berpikir. 4) Sekumpulan nilai-nilai yang menjadi pedoman berperilaku dan berbuat.

Dari definisi diatas dapatlah disimpulkan beberapa hal sebagai berikut :
1. Akhlak merupakan falsafah perbuatan yang membahas dasar-dasar baik buruk. Dengan penertian ini, akhlak termasuk dalam kategori ilmu normative.
2. Sebagai ilmu, akhlak mengadakan penelitian tentang berbagai bentuk perilaku manusia untuk dijadikan landasan penilaian baik buruk.
3. Di sisi lain akhlak berarti ilmu dan falsafah yang bersifat teoritis, tetapi juga bentuk-bentuk tindakan yang lahir dari sebuah kesadaran nilai yang bersifat praktis.

Kegagalan etika bisnis bukan berarti terletak pada ketidaktahuan atau keengganan pada pelaku bisnis untuk menyelenggarakan bisnis secara etis (faktor internal) melainkan terletak pada faktor eksternal.

Hal ini disebabkan oleh dua hal sebagai berikut:
1. Konsep normative yang kaku sarat dengan rambu-rambu moralitas, yang menjadi kendala bagi praktik bisnis di lapangan.
2. Lingkungan bisnis yang tak kondusif bagi berlakunya bisnis secara etis. Ini mudah dipahami karena bisnis adalah kegiatan yang terfokus pada uang, efisiensi dan ekspansi. Karena itu demi eksistensi dan kemapanan, setiap pelaku bisnis akan menghalalkan segala cara.

Manusia adalah mahluk berbudi, oleh karena itu segala kegiatan yang bebas nilai memerlukan budi nurani manusia yang disebut kata hati. Maka istilah etika bisnis mengandung arti memberi nilai pada kegiatan bisnis.

Untuk menjadi masyarakat abad ke- 21, ada dua agenda yang harus kita lakukan. Pertama, mencari strategi penyebaran tindakan etis agar etika bisnis menjadi consensus nasional. Kedua, merekayasa budaya etika bisnis Indonesia, yang mencakup kepentingan pengusaha, konsumen, pengguna jasa, pekerja, dan lingkungan demi masa depan yang cerah. Dengan demikian etika bisnis perlu berperan sebagai mitos baru bukan sekedar rambu-rambu moralitas.

Semua unsure masyarakat perlu terlibat agar dapat berfungsi secara serentak sebagai kontrol social demi terselenggaranya praktik bisnis yang etis. Tanpa etika bisnis, kita akan terbawa oleh “permadani terbang” tersebut ke suatu tempat antah berantah dan bisa jadi kita akan berjatuhan.


SISTEM ETIKA
Etika secara umum dapat dibagi menjadi etika umum dan etika khusus. Etika umum berbicara mengenai kondisi-kondisi dasar bagaimana manusia beribadah. Secara etis, bagaimana manusia mengambil keputusan etis, teori-teori etika dan prinsip-prinsip moral dasar yang menjadi pegangan bagi manusia dalam bertindak secara tolok ukur dalam menilai baik atau buruknya suatu tindakan. Etika umum dapat dianalogikan dengan ilmu pengetahuan yang membahas pengertian umum dan teori-teori.

Etika khusus adalah penerapan prinsip-prinsip moral dasar dalam bidang kehidupan yang khusus. Etika khusus dibagi menjadi dua, yaitu etika individual dan etika sosial. Etika individual menyangkut kewajiban, sikap, dan pola perilaku manusia sebagai anggota manusia. Tujuan dari etika sosial adalah untuk menggugah kesadaran kita akan tanggungjawab kita sebagai manusia dalam kehidupan bersama dalam segala dimensi.


Mitos Bisnis Amoral
Bisnis adalah bisnis, jangan dicampur adukan dengan etika. Ungkapan ini sering terdengar yang menggambarkan hubungan antara bisnis dan etika. Inilah ungkapan yang disebut mitos bisnis amoral. Mitos ini menggambarkan dengan jelas paham atau kepercayaan orang bisnis sejauh mereka menerima mitos seperti tentang dirinya, kegiatannya, dan orang lain yang hubungan bisnis dengan mereka.

Kegiatan mereka adalah melakukan bisnis, maka yang menjadi perhatiannya adalah memproduksi, mengedarkan, menjual serta membeli barang dan jasa dengan memperoleh keuntungan. Singkatny, yang menjadi pusatperhatian adalah bagaimana berusaha sekuat tenaga untuk mendatangkan keuntungan yang sebesar-besarnya.

Jadi bisa dikatakan dari mitos bisnis amoral adalah bisnis dan etika merupakan dua hal yang berbeda dan terpisah satu sama lainnya. Bisnis tidak bisa dinilai berdasarkan tolok ukur etika moralitas, karena pertimbangan-pertimbangan moral dan etika tidak tepat untuk bisnis. Konsekuensinya sudah sewajarnya bisnis tidak mempedulikan pertimbangan dan prinsip-prinsip etika. Singkatnya bisnis tidak mengenal etika.


SUMBANGAN ETIKA BISNIS
Dalam semua bidang etika bisnis membantu para pelaku bisnis untuk mendekati masalah-masalah bisnis dengan sentuhan moral. Etika bisnis membantu para manajer, pelaku bisnis lainnya untuk menangkap hal yang tidak bisa ditangkap dengan mata ekonomi manajemen murni dan memecahkan banyak-banyak persoalan dengan menggunakan pendekatan yang lebih dari pendekatan ekonomi manajemen.

Etika bisnis menggugah bahwa dalam melakukan bisnis, kita tetap bertindak dan berperilaku sebagai manusia yang mempunyai matra etis. Dalam konteks bisnis sebagai suatu profesi yang luhur, etika bisnis mengajak kita untuk berusaha mewujudkan citra bisnis dan manajemen yang baik (etis).

Sebagai bidang kegiatan dalam suatu masyarakat yang melibatkan hampir semua anggota masyarakat. Entah sebagai pengusaha, manajer, pekerja maupun konsumen bisnis yang baik mempunyai sumbangan besar bagi kehidupan masyarakat pada umumnya.

PRINSIP-PRINSIP ETIKA BISNIS
Secara umum, prinsip yang berlaku dalam kegiatan bisnis yang baik sesungguhnya tidak bisa dilepaskan dari kehidupan kita sebagai manusia pada umumnya. Demikian pula prinsip itu sangat erat terkait dengan system yang dianut oleh masyarakat.

Namun, sebagai etika khusus atau etika terapan, prinsip dalam etika bisnis sesungguhnya adalah penerapan dari etika pada umumnya.

1. Prinsip Otonomi
Sikap dan kemampuan manusia untuk bertindak berdasarkan kesadaran sendiri tentang apa yang mereka anggap baik untuk dilakukan. Untuk bertindak otonom diandaikan ada kebebasan untuk mengambil keputusan dan bertindak berdasarkan keputusan itu.




2. Prinsip Kejujuran
Kejujuran merupakan suatu prinsip etika bisnis. Kini para praktisi dan manajemen mengakui bahwa kejujuran merupakan suatu jaminan dan dasar bagi kegiatan bisnis.

3. Prinsip Keadilan
Pinsip menurut agar kita memperlakukan orang lain sesuai dengan haknya. Hak orang lain perlu dihargai dan tidak boleh dilanggar.


MASALAH YANG DIHADAPI ETIKA BISNIS
Didepan sudah dikatakan bahwa bisnis tetap mengenal etika, dari keterangan di atas kita juga perlu mengetahui masalah-masalah yang dihadapi etika bisnis. Dari sini kita perlu mengetahui hubungan-hubungan dalam etika bisnis.

a) Hubungan Primer
Meliputi semua hubungan langsung yang diperlukan suatu perusahaan untuk melaksanakan fungsi dan misinya yang utama, yaitu memproduksi barang dan jasa dalam masyarakat.

b) Hubungan Sekunder
Meliputi berbagai hubungan dengan kelompok masyarakat yang merupakan akibat dari pelaksanaan fungsi dan misi utama perusahaan.

Masalah yang dihadapi adalah bahwa standar moral para pelaku bisnis masih sangat lemah. Banyak diantaranya (pelaku bisnis) yang terjun di dunia bisnis hanya dengan motivasi dasar mencari keuntungan dan memperoleh tingkat hidup yang mencukupi material dan tidak memperhitungkan segi etika bisnis.

Pada tingkat perusahaan sering terjadi konflik kepentingan. Mereka menghadapi suatu konflik yang sulit antara niali pribadi dengan tujuan yang ingin dicapai perusahaan. Bahkan mereka menghadapi konflik antara perusahaan dan masyarakat dan antara pihak-pihak yang terlibat dalam urusan bisnis.

Pada tingkat masyarakat, kenyataan menunjukkan bahwa masyarakat sedang mengalami transisi, yaitu dari masyarakat berkembang menuju masyarakat maju. Dalam situasi ini terjadilah transformasi dan perubahan-perubahan besar dalam segala bidang kehidupan. Yang dikhawatirkan adalah tercabutnya aturan budaya luhur kita, dan kita belum ada nilai baru yang kita pegang.

Secara spesifik oleh karena etika bisnis merupakan penerapan tanggung jawab social suatu bisnis timbul dari dalam perusahaan itu sendiri. Etika pergaulan bisnis dapat meliputi beberapa hal antara lain:

a. Hubungan antara bisnis dengan pelanggan/konsumen
Hubungan antara bisnis dengan pelanggannya merupakan hubungan yang paling banyak dilakukan, oleh karena itu bisnis haruslah menjaga etika pergaulan secara baik dalam hal ini. Adapun pergaulan dengan pelanggan ini sebagai berikut:
1. Kemasan yang berbeda-beda membuat konsumen sulit untuk membedakan atau mengadakan perbandingan harga terhadap produknya.
2. Bungkus ataupun kemasan membuat konsumen tidak dapat mengetahui isi di dalamnya, sehingga produsen perlu memberikan kejelasan tentang isi serta kandungan atau zat-zat yang terdapat di dalam produknya.
3. Promosi terutama iklan merupakan gagasan etis paling utama.
4. Pemberian servis dan terutama garansi adalah merupakan tindakan yang sangat etis bagi suatu bisnis.

b. Hubungan dengan karyawan
Manajer pada umumnya selalu berpandangan untuk memajukan bisnisnya seringkali harus berurusan dengan etika pergaulan dengan karyawannya. Pergaulan bisnis dengan karyawan meliputi beberapa hal yaitu; Penarikan, Latihan, Promosi atau kenaikan pangkat, transfer, demosi(penurunan pangkat) maupun pemecatan/PHK. Di dalam menarik tenaga kerja haruslah dijaga adanya penerimaan yang jujur sesuai dengan hasil seleksi yang dijalankan.

Disamping itu tidak jarang seorang manajer mencoba meneikkan pangkat para karyawan dari generasi muda yang dianggap sangat potensial dalam rangka membawa organisasi menjadi lebih dinamis, tetapi hal tersebut mendapat protes keras dari karyawan generasi tua. Masalah lain yang paling rawan adalah masalah pengeluaran karyawan/PHK. Masalah PHK perlu mendapatkan perhatian ekstra dari para manajer karena hal ini menyangkut masalah tidak hanya etik saja akan tetapi juga masalah kemenusiaan. Karyawan yang di PHK tentu akan kehilangan mata pencaharian yang menjadi tumpuan hidup dia dan keluarganya.



c. Hubungan antar bisnis
Hubungan ini merupakan hubungan antara perusahaan yang satu dengan perusahaan yang lainnya. Hal ini bisa terjadi hubungan antara perusahaan dengan pesaingnya, dengan penyalurnya, dengan grosirnya, dengan pengecernya, agen tunggalnya maupun distributornya. Dalam hubungan itu tidak jarang dituntut adanya etika pergaulan bisnis yang baik.

d. Hubungan dengan investor
Perusahaan yang berbentuk perseroan terbatas dan terutama yang “go public” haruslah menjaga pemberian informasi yang baik dan jujur dari bisnisnya kepada para investor atau calon investor. Informasi yang tidak jujur akan menjerumuskan untuk mengambil keputusan.

e. Hubungan dengan lembaga-lembaga keuangan
Hubungan dengan lembaga keuangan terutama Jawatan Pajak pada umumnya hubungan pergaulan yang bersifat finansial. Hubungan ini merupakan hubungan yang berkaitan dengan penyusunan laporan keuangan yang berupa neraca dan laporan laba rugi. Laporan finansial tersebut haruslah disusun secara baik dan benar sehingga tidak terjadi kecenderungan kearah penggelapan pajak misalnya. Keadaan tersebut merupakan etika pergaulan yang tidak baik tentunya.


2.4. BENTUK-BENTUK TANGGUNG JAWAB SOSIAL SUATU BISNIS
Seperti telah diuraikan dimuka bahwa pelaksanaan tanggung jawab social suatu bisnis adalah merupakan penjabaran dari kebutuhan social dari suatu bisnis. Dengan semakin tinggi tingkat kepedulian social suatu bisnis maka berartia akan semakin meningkat pelaksanaan praktik bisnis etik dalam masyarakat. Banyak kita lihat atau kita alami praktik bisns yang kuran etis misalnya saja banyak produk yang tidak layak jual akan tetapi masih diperjual belikan di took-toko. Banyak pula makanan yang mengandumg zat-zat kimia yang membahayakan masyarakat konsumen masih dijual di mana-mana.

Bahkan belum lupa diingatan kita bahwa pernah terjadi suatu perusahaan yang menjual produk yang kita kenal dalam kasus “BISKUIT BERACUN”. Disamping itu banyak dilakukan beberapa PHK (Pemutusan Hubungan Kerja) bagi para karyawan tanpa memeperoleh uang pesangon yang wajar bagi pekerja Dengan pelaksanaan etika bisnis maka kepentingan masyarakat banyak akan terlindung dari praktik bisnis yangmerugikan kepentingan masyarakat banyak. Beberapa bentuk pelaksanaan tanggung jawab social suatu bisnis yang dapat atau telah dilakukan oleh beberapa pengusaha khususnya di Indonesia dapat disebutkan sebagai berikut :

a. Pelaksanaan Hubungan Industri Pancasila (HIP)
Banyak pengusaha yang telah menyusun dan melaksanakan hubungan industri Pancasila ini dalam bentuk yang sering dikenal sebagai Kesempatan Kerja Bersama (KKB). KKB merupakan sebuah pedoman tentang hubungan antara pengusaha dengan para pekerja atau karyawan perusahaan yang biasanya dituangkan dalam sebuah buku.

b. Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL)
Banyak pengusaha yang pada saat ini telah melaksanakan AMDAL dalam melaksanakan kegiatan bisnisnya. Wujud nyata dalam AMDAL ini tercermin dalam pelaksanaannya mengolah limbah industri sehingga limbah tersebut tidak menggangu lingkungan.

c. Penerapan Prinsip Kesehatan dan Keslamatan Kerja (K3)
Penerapan prinsip K3 telah banyak dilaksanakan pula oleh para pengusaha kita. Seperti kita ketahui bahwa beberapa perusahaan telah memperoleh penghargaan yang berupa “ZERO ACCIDENT”. Perusahaan yang memperoleh penghargaan ini berarti telah menjalankan proses produksinya sedemikian lama tanpa mengalami kecelakaan kerja bagi karyawannya. Guna melaksanakan praktik K3 memerlukan banyak peralatan pelindung bagi para pekerja dalam melaksanakan pekerjaannya baik berupa topi pengaman, masker, maupun berupa pakaiankerja khusus dan sebagainya.

d. Perkebunan Inti Rakyat (PIR)
Pelaksanaan program pemerintah yang berupa PIR dimana dalam hal ini Perusahaan Besar yang biasanya adalah milik Negara akan menjadi motor penggerak pembangunan perusahaan masyarakat disekitarnya yang merupakan plasma. Perusahaan masyarakat yang merupakan plasmanya akan mendukung kelancaran pemasokan bahan baku bagi perusahaan besar milik Negara sehingga dengan system ini akan saling membantu antara perusahaan besar dengan perusahaan masyarakat yang umumnya kecil. Dengan demikian maka pembangunan bangsa akan berjalan secara seimbang dan saling menopang.


e. Sistem Bapak Angkat – Anak Angkat
Pelaksanaan system ini juga banyak membantu kelancaran proses pembangunan bangsa serta keterkaitan industri maupun keterkaitan kepentingan masyarakat banyak. Praktik tersebut sangat mudah dilaksanakan karena diperlukan kesadaran yang tinggi dari pengusaha besar yang harus bersedia membantu perkembangan pengusaha kecil yang sering banyak menimbulkan persoalan bagi pegusaha besar yang menjadi bapak angkat.